Dilamar

Ketika usia saya menginjak 25 tahun dan saya masih sendirian (atau mungkin saat itu sedang berada di dalam hubungan yg sulit, cailah!), saya mulai (sedikit) kuatir akan diri saya sendiri, “Ini sebegini banget ya jomblonya? Is there something wrong with me?”- Beruntunglah saya memiliki Bapak Ibu yang gak kuatir anak perempuan satu-satunya ini masih sibuk kerja (Dan sibuk main) ketimbang mikirin kapan mau kawin. After all, Ibu saya pernah bilang begini;

“Kalau mau punya jodoh yang baik, ya dirinya sendiri juga harus jadi orang baik.”

Berbekal pesan itu dan entah-udah-berapa-kali-pacaran-putus-hampir-kawin-relationship, saya berdo’a dan bilang begini, “Saya akan ketemu orang yang pas ketika saya berusia 26-27 tahun dan nikah umur 28 tahun.”

Ucapan yang baik itu adalah sebuah do’a. Karena yang berikutnya terjadi sungguh diluar dugaan, ketemu sama suami. Awal perkenalan kami pun aneh.

Dikenalkan dari seorang teman kantor, dan suami pada waktu itu menolak untuk dikenalkan pada saya karena sedang punya gebetan. Saya tertawa waktu itu, masih ada ya lelaki jujur yang bilang lagi punya gebetan dan sedang serius dengan gebetannya itu padahal dikenalin ama cewek lain. Singkat cerita beberapa minggu kemudian, suami menghubungi saya. Dan sekarang kami sudah menikah. Ketika saya sedang menulis di blog yg sepertinya udah ratusan tahun belum di-update ini, posisi suami sedang berada di ujung ruangan, sedang kerja, saya duduk di meja kerja saya sendiri.

Apakah mulus hubungan kami? Nggak tuh. Dibilang nggak mulus juga kurang tepat, yang jelas kami berdua bisa mengatasi hambatan yang muncul. Dengan dia, saya merasa tidak pernah cemburu atau kuatir dia akan selingkuh. Jujur, adalah kunci dari hubungan kami. Sudah lama sekali saya tidak pernah punya hubungan seperti ini. Klik. Effortless dan tidak head over heels, nggak menggebu-gebu.

Dilamar.

ANDK7452
Continue reading “Dilamar”