Menikah

Welcome to adulthood!

When you’re married, you are considered as mature enough. You’re no longer staying with your parents (in my case, I have lived in a different house from my parents since 2012). Saya hanya punya waktu 3 bulan untuk mempersiapkan pernikahan saya, dihitung dari tanggal lamaran saya.

Ada yang bilang nikah itu jodoh-jodohan sama MUA, gedung, catering dll. Bener sih, saya menentukan tanggal pernikahan juga setelah bertanya tanggal yang available di venue yang saya mau, MUA favorit saya, catering yang akan saya pakai baru info ke keluarga apakah mereka oke dengan tanggal yang kami pilih atau tidak.

Pas dapet semuanya, saya bilang, ini sih emang jodohnya saya, rejekinya pas. Pas dapet venue yang dimau, MUA favorit saya dan lain – lainnya. Meski ada kekurangan disana sini, tapi yang penting acara lancar.

IMG_0383

Continue reading “Menikah”

(Not ) A Wedding Crasher

So last Saturday, I didn’t do anything special with the boyfie. If he’s busy, I should get myself busy too. I made the call, hanging out with Naomi, a good friend of mine yang udah kenal dari tahun 2010 tapi baru ketemu Oktober 2014, what a life. Kalau sebelumnya kami punya rencana mau ngapain for the girls’ day out, kali ini super random.

So, here’s my Saturday random date with Naomi. Makan, ngobrol, refleksi, nge-starbucks, ngobrol, test food catering.

Hal terakhir yang kami lakukan mungkin yang paling menyenangkan. Kali ini saya tidak melakukan test food dengan si Marketing, tapi langsung nyelonong ke kawinan orang. Tentunya berbekal masukkin angpao, nulis nama di buku tamu (meski nggak kenal ama pengantinnya), dapet suvernir, ikut foto di photoboothnya dan ngeliat semua prosesi nikahannya. Seru!

Will that make us a wedding crasher? 😀
Continue reading “(Not ) A Wedding Crasher”