Will You Still Love Me When We’re Older?

Mungkin, jawabku. Saya tidak tahu pasti apakah kelak di masa depan bertahun-tahun lamanya saya masih mencintai kamu. Tapi saya bisa berjanji bahwa saya akan selalu ada buatmu. Saya selalu menepati janji-janji saya.

“I love you forever.”

Beritahu saya apabila selamanya memang ada. Kita tidak pernah tahu bukan bagaimana masa depan. Tapi saya tahu, saya mau dan akan menghabiskan sebanyak apapun waktu saya denganmu. Yang saya tahu pasti saya selalu menikmati setiap detik waktu saya bersamamu, mendengar kamu bercerita tentang jins barumu yang kebesaran, protesmu ketika saya memilih film yang sama untuk ditonton (seperti World War Z atau Olympus Has Fallen), melihatmu merebut cheese quiche favorit saya dan merasakan nyamannya dipeluk kamu.

Saya hapal dengan tarikan lengkung senyum di wajahmu. Atau urat-urat yang terlihat jelas di jemarimu ketika menggenggam jemari saya. Saya ingat betapa ribetnya kamu ketika keluar dari mobil dengan menenteng dompet, kunci mobil dan ponselmu.

Tentang masa depan, saya mau menikmatinya bersama kamu. Tapi, bila kamu bertanya apakah aku akan tetap mencintaimu ketika usia kita bertambah, maka jawabnya adalah mungkin. Tidak mungkin saya tidak mencintaimu dengan kurang, tapi mungkin saya tetap mencintaimu sebesar sekarang atau bahkan lebih, kelak.

Satu yang perlu kamu tahu sekarang, bila kamu mengatakan, “Saya mencintai kamu.” Maka jawabannya adalah “Saya mencintai kamu. Lebih.”

*inspired by Hanny’s post Will you still love me when I’m 64?*

Resep Sempurna

Sometimes I look at you, and wonder if you really happened.

If someone asks me what the perfect ingredients for love, here’s my answer: 25% friendship, 50% companionship, 10% trust, 10% communication, and 5% other things.

Tentang Berduka dan Kesedihan

Saya tak pernah bisa menyatakan belasungkawa, sama seperti Hanny. Saya selalu kesulitan mengatakannya. Sampai detik ini, saya tak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud saya.

Bahkan, saya selalu saja gagal untuk meyakinkan mereka yang sedang berduka, “Hei, saya disini. Kapanpun kamu butuh.” Yang keluar dari mulut saya pun tak ada. Hanya seulas senyum saja. Saya tahu rasanya bersedih. Tapi tak pernah bersedih karena sedang berduka. Saya tahu rasanya kehilangan yang berkali-kali. Karena saya selalu belajar bahwa yang pergi terkadang takkan pernah kembali.

hands

Ever had a memory that sneaks out of your eye, and rolls down your cheek? I did. So many times.

Kerapkali, saya merasa frustasi karena tak bisa ikut merasakan kesedihan karena berduka. Berharap mereka bisa membagi rasa duka mereka dengan saya. Kerapkali juga, saya jadi dihantui perasaan bersalah karena tak bisa apa-apa. Seperti beberapa hari terakhir ini. Tidur saya tak lagi nyenyak dan tak bisa merasakan nikmatnya nasi padang.

Continue reading “Tentang Berduka dan Kesedihan”

Untuk Lelaki Pembuat Roti

Peeta-Mellark

Teruntuk Peeta Mellark*,

My feeling for you has always been real, Peeta.

Sama seperti yang selalu kamu katakan pada Katniss berulang-ulang. Aku tahu menunjukkan rasa sayangku padamu, seperti mengorbankan diriku di The Hunger Games layaknya Katniss yang berjuang untukmu. Bahkan aku bisa lebih baik lagi darinya. Aku tak perlu berpura-pura untuk mencintaimu hanya demi memenangkan acara tahunan The Hunger Games. Aku bisa dan mau mencintaimu tahunan lamanya bila waktu mengizinkan. Perempuan mana yang takkan jatuh cinta pada lelaki sepertimu?

Aku akan selalu peduli padamu.

Aku akan dengan setia menemanimu berbicara sembari melukis. Bahkan, hei, aku memang pandai melukis.

Bila kamu bertanya padaku apa yang aku tahu tentangmu, maka ini jawabannya;

Aku tahu kamu pembuat roti. Kamu selalu senang tidur dengan jendela terbuka. Kamu tak pernah minum teh dengan gula. Dan kamu selalu memberikan simpul ganda tali sepatumu.

Tidakkah itu cukup bagimu, Peeta?

Bahwa aku tahu kamu seperti bunga dandelion di musim semi. Bahwa kamu adalah cahaya matahari pagi. Bahwa seperti Katniss, aku sadar bahwa aku akan jadi satu-satunya yang hancur bila kamu tak ada.

I realized only one person will be damaged beyond repair if Peeta dies. Me.

Bahwa aku akan menjawab dengan satu kata, “Always.” untuk setiap pernyataan, “Stay with me.” darimu.

Bahwa aku ingin menjadi bagian mimpi burukmu ketika kamu tahu bahwa kamu kehilanganku. Bahwa kamu bahagia ketika sadar aku membutuhkanmu.

Tetapi, beberapa hal sebaiknya berjauhan saja. Layaknya aku dan kamu.
Continue reading “Untuk Lelaki Pembuat Roti”

Mas-nya mana?

La Dolce Far Nienthe, bahwa pemikiran dasar banyak orang yang kukenal adalah hidup akan terasa lebih menyenangkan ketika kita tidak perlu melakukan apa-apa. Istilah kerennya ‘ongkang-ongkang aja’. Well, that doesn’t work out for me. If I have to wake up every morning doing nothing, I’ll die of boredom. Banyak pekerjaan yang tidak akan cocok buatku; jadi istri pengusaha kaya yang tiap hari belanja ke toko-toko desainer terkemuka atau jadi sosialita yang tiap malam party sampai pagi.

Pekerjaan yang cocok buatku pun lumayan banyak, jadi fashion consultant, fashion blogger, atau fashion editor di salah satu majalah fashion terkemuka di Singapore. Well, semua yang kusebutkan di atas itu bukanlah pekerjaanku yang sesungguhnya.

Pagi ini, aku terbangun dengan kepala yang berdentum-dentum. Oh, aku ingat party sampai pagi. Wow, aku baru saja melakukan satu hal yang semestinya tak kulalukan di malam hari kerja, party sampai pagi. Apalagi hari ini, damn it aku benci hari ini, hari kamis adalah weekly meeting, meeting rutin untuk membahas masalah apa yang dihadapi oleh tim supply chain, sales, finance dan lain-lainnya; terlepas bahwa aku lahir di hari kamis, aku tetap saja tidak suka hari kamis.

“Kenapa sih benci banget sama hari Kamis?” George, my partner in crime, bertanya suatu hari.

“Karena George, aku trauma sama hari Kamis. Period.”
Continue reading “Mas-nya mana?”

Pulang

"Halte busway berikutnya adalah halte bendungan hilir. Penumpang yang akan melanjutkan perjalanan menuju… "

Aku tak lagi memperhatikan suara rekaman operator di busway yang sedang kunaiki. Beberapa penumpang, coret, hampir semua penumpang memutuskan untuk turun di halte benhil ini. Kutatap pantulan diriku di pintu kaca. Celana yoga warna hitam melekat pas, sepatu abu-abu ungu, dan kacamata rayban ber-shade cokelat bertengger di telingaku. Aku memang suka mengenakan kacamata hitam meskipun berada di dalam ruangan. Bentuk mataku yang lumayan sipit membuatku merasa tidak percaya diri.
Continue reading “Pulang”

Aku Benci Kamu Hari Ini

“Selamat ulang tahun, sayang Rubi. Semoga bahagia selalu betah bersamamu, ya.”

Pesan singkat di whatssapp messenger yang kamu kirimkan membuat saya mengalihkan perhatian saya dari semua pekerjaan yang sedang saya kerjakan. saya baca berulang-ulang selama lima menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetikkan jawaban untukmu.

“Terima kasih, Dimas. I pray for all the best thing in the world for you.” Saya tambahkan emoticon senyum lebar.
Continue reading “Aku Benci Kamu Hari Ini”