Pagi ini. Hari ini.

Hidup ini indah. Ketika kubuka kelopak mataku. Pagi ini. Bunga mainan yang kuletakkan persis di jendela bergoyang. Begitu juga dengan daunnya. Mereka indah. Padahal cuma imitasi. Aneh. Benar – benar aneh.

Aku duduk di tepi kasur. Merenung. Mimpi semalam. Aneh. Tak ada lagi kamu. Jujur, aku rindu. Meski hadirmu cuma ada dalam mimpi. Tapi, ini aneh. Kamu tak lagi datang.

Aku menerawang jauh. Ada rintik hujan. Segar. Lalu, mentari menyinari. Langit biru cerah. Nah, ini benar – benar aneh. Hujan tapi langit cerah dan matahari terang.

Tapi, jujur. Semuanya tampak lebih indah.

Begitu aku menekan – nekan tombol di blackberryku. Sudah tak ada lagi kamu. Biasanya sih mukamu nongkrong di wallpaper blackberryku. Sekarang? Yang ada senyum manis sahabat – sahabatku. Mereka sedang tertawa lucu. Berbeda.

Aku baru sadar. Ternyata semua hal di sekelilingku indah. Tak ada keraguan. Lalu, kemana saja aku selama ini?

“Ah, kamu terlalu sering memikirkan dia.”

Iya. Itu betul. Dulu aku terlalu sering menanamkan dirimu ke dalam otakku. Hingga aku sendiri tak punya waktu.
Aku terlalu sering mengkhawatirkan kamu. Apa yang akan terjadi bila aku tanpa kamu?

Lalu.. lalu.. apakah kamu akan baik – baik saja kalau tanpa aku?

Berminggu – minggu aku resah. Dan tak bisa menemukan jawabannya.

Rupanya bisumu adalah jawaban bagiku. Diammu bukti ketidakpedulianmu. Ketidakacuhanmu padaku menampar wajahku.

Aku sadar aku telah membuang waktuku sia – sia. Sudah waktunya kamu dilupakan. Bukan dibuang. Cukup dengan disimpan. Dalam – dalam.

Dan aku belajar ketika aku berhenti mengkhawatirkan dirimu. Ketika aku tidak lagi memikirkanmu. Aku punya waktu buatku sendiri. Aku melihat semuanya lebih indah.

Terima kasih. Atas semua. Pagi ini. Hari ini.

Tale story

One’s fairy tale is always someone else’s nightmare…

Aku merenungi cuplikan kalimat. Potongan 28days. Mengerikan. Betapa sekalimat itu memberikan impact besar. Andil untuk moodku terombang-ambing.

Membaca ulang email yang dikirimkan kawanmu. Memintaku untuk tidak terus maju. Tak lagi mengharapkanmu. Indikasi yang tersirat bahwa aku tak usah bertahan. Bahwa aku tak pantas mendapatkanmu.

Atau mungkin..

Karena kamu sudah memiliki yang lain? Tidak mungkin. Aku tahu kamu. Atau KURASA aku tahu kamu.

Kalau memang itu benar alasannya. I’ll be the broken hearted. Padahal, it’s supposed to be your loss.

Tak seharusnya aku sedih. Toh, aku tak kehilangan apapun. Jujur, kamu tak memahamiku. Aku tak mengerti maumu. Terkadang kamu punya pemikiran yang salah. Tapi tak mau bertanya. Kamu terbelenggu dengan pikiran-pikiranmu itu.

Entahlah. Aku lelah.
Menganalisa.

Mungkin alasannya mudah.

Kamu tak lagi suka aku.
Kamu ilfil denganku.
Kamu mati rasa padaku.
Kamu menyukai orang lain.

Yang manapun itu. Semuanya menyakitiku.

Aku benci dengan sikapmu. Dan kelemahanku karena kamu. Tapi..
Aku sayang kamu.

Catatan tak terselesaikan. Malam merenung. Criminal Minds 6 atau menyelesaikan tulisan.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Tahukah kamu?

Kamu tidak tahu aku.

Kalau aku menjadi istrimu (Well, aku sedikit berkhayal), aku akan menjadi penulis saja. Bekerja di rumah. Dengan laptop setiap saat menyala. Dan aku akan menulis tentang kita. Itu juga kalau kamu tidak keberatan. Atau aku akan mengajar Bahasa Inggris di beberapa tempat selama kau mengijinkan. Dengan setia menunggu kamu pulang kerja. Kamu selalu pulang kerja tepat waktu.
Continue reading “Tahukah kamu?”