Happiness

This topic simply comes at me for these few days. Entah kenapa teman saya, Rahendra, tiba-tiba membawa topik masalah kebahagiaan di Sabtu malam lalu ketika kami nongkrong bareng. Waktu itu saya jawab, “Bahagia itu melakukan apa yang bisa kamu lakukan tanpa perasaan tertekan.”

Jawaban saya waktu itu terlontar begitu saja. Iya, memang kebetulan beberapa minggu terakhir ini, saya seperti punya banyak beban meskipun kemana-mana saya tetap saja cengar-cengir nggak karuan. Tapi, dalamnya hati, mana ada yang tahu, iya kan? #AwalnyaSederhanaLaluCurhat

Lalu, pagi ini Wira mengirimkan pesan whatsapp yang (lagi-lagi) menanyakan masalah ‘Apa yang membuatmu bahagia?’ karena dia mempunyai versi kebahagiaan yang dia dapatkan dari The Beatles. *tiba-tiba di kepala saya mengalun satu lagu milik The Beatles yang judulnya ‘I wanna hold your hands’*
Continue reading “Happiness”

Blueberry Muffin

Namanya Leah Isla Wiryawan. Dan dia seorang desainer.

Aku, dan mungkin seluruh penduduk Jakarta, mengenal dia dari puluhan billboard di ibukota. Bukan dia secara fisik, tapi rancangan baju yang seringkali dipakai oleh para selebriti dan para petinggi negara.

Saat itu hujan sedang mengguyur Jakarta dengan derasnya, dan kuputuskan untuk menunda waktu pulangku. Masuk ke coffee shop sebelah gedung kantorku demi menghindari menyetir mobil di tengah hujan badai. Selama 3 tahun aku bekerja, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk mampir ke coffee shop ini. Tak pernah.

Gemerincing pintu yang kubuka dengan bahuku dan riuh suasana coffee shop menyambutku. Hangat.

“Hot Caramel Machiato. Extra caramel. Muffin, blueberry ya.”
Continue reading “Blueberry Muffin”

Leah & Wisnu : Kamu kalau Cinta bilang aja

[Flashback]

“Le, yakin gak mau keluar rumah malem minggu ini?” Kak Lila menerobos masuk kamarku. Aku cuma menggeleng pelan.
“Beneran?” Aku mengangguk mantap.

“Leah mau baca buku aja, Kak. Belum beres nih baca bukunya.”
“Iuuhhh, baru tau kalau kamu tuh seorang geek. Oh, nerd.”
“I’m a geek and nerd, but oh well, i’m a pretty geek. Ha!”
Continue reading “Leah & Wisnu : Kamu kalau Cinta bilang aja”

Leah & Wisnu : Bunga Matahari

“Kamu suka bunga matahari?”
Aku kerapkali mendengar suara Wisnu ketika aku memandang fluorescence wall paper di tembok kantorku.

“Le, gak pulang? Udah malem ini. Are you planning to stay a night at the office?” Suara Yasmin mengagetkanku. Buru-buru kukemasi tasku.

“Gila yah Le, kamu tuh gak di Jakarta gak di Singapore tetep workaholic. Get a real life, Le.” Aku memutar bola mataku ke atas. Menenteng tas dan buku Dan Brown bersamaan. “Well, Yasmin sayang, i’m living in a real life. Like seriously.”
Continue reading “Leah & Wisnu : Bunga Matahari”

Benarkah kamu tahu?

Kamu benar-benar tak banyak tahu tentang aku.

Hal-hal kecil yang akan aku lakukan buatmu, misalnya.

Aku yang takkan lupa menelponmu sebelum kamu pulang kantor. Menanyakan jam berapa kamu akan sampai rumah. Sudah sholat maghrib? Jangan lupa makan. Aku harus mencatat di kepalaku bahwa kamu takkan memeriksa ponselmu dari waktu tidurmu hingga kamu tiba di kantor pukul sepuluh. Aku tak bisa apa-apa.
Continue reading “Benarkah kamu tahu?”

[#15HariNgeblogFF] [2] Dag dig dug!

Hatiku tak tenang. Berdegup kencang tak karuan.

Entah kenapa, sepagian ini aku merasakan bimbang. Tak enak perasaan. Menunggu kamu yang tak kunjung memberi kabar.

Kamu kemana sih, sayang?
Masa kamu tak ingin mendengar suaraku barang sebentar?
Atau menanyakan kabarku yang jauhnya berjengkal-jengkal?

Aku menghela napas panjang.
Continue reading “[#15HariNgeblogFF] [2] Dag dig dug!”

[#15HariNgeblogFF] [1] Halo, siapa namamu?

Android-ku tergeletak begitu saja di meja.Beserta selembar kertas berisikan sejumlah angka di sebelahnya. Entah milik siapa. Kertas itu, maksudnya.

Aku masih teringat sesosok mahluk manis di ujung koridor yang sering aku nanti setiap hari.

Kalau mahluk manis ini terlihat di kejauhan, aku akan segera membetulkan posisi kacamata. Supaya benar-benar yakin kalau mahluk manis itu dia.

Aku akan duduk di sebelah pintu ganda tempat mahluk manis ini masuk melangkahkan kakinya ke kantin kantor. Manis. Buatku cukup. Dia manis.

Dengan blus rapi dan sepatu hak tinggi. Senyumnya tipis. Tapi manis.

“Bagas.. Bagas.. Mau sampe kapan kamu cuma ngeliatin si manis itu?”

Akupun tersenyum sinis. “Tenang saja, pasti ada waktunya.”

Nomer telepon si manis pun, aku tak punya. Jangankan bicara, menyapa sederhana saja, mana bisa. Gak berdaya, apalagi kalau dia tersenyum tipis. Tekadku langsung habis.

“Aku punya nomer teleponnya nih, mau gak, Gas?”

Aku sumringah. Berbinar cerah. Kutimang-timang serangkaian angka di selembar kertas.

Telpon. Enggak. Telpon. Enggak. Telpon.

Aku mengetikkan angka-angka itu di layar sentuh androidku. Call? Yes.

Abort call.

Aku tak berani. Rasanya aku tak punya nyali. Bukan begini. Bukan begini caranya mencuri hati. Selembar kertas dengan angka yang tertera berakhir begitu saja. Di atas meja. Continue reading “[#15HariNgeblogFF] [1] Halo, siapa namamu?”