Happiness

This topic simply comes at me for these few days. Entah kenapa teman saya, Rahendra, tiba-tiba membawa topik masalah kebahagiaan di Sabtu malam lalu ketika kami nongkrong bareng. Waktu itu saya jawab, “Bahagia itu melakukan apa yang bisa kamu lakukan tanpa perasaan tertekan.”

Jawaban saya waktu itu terlontar begitu saja. Iya, memang kebetulan beberapa minggu terakhir ini, saya seperti punya banyak beban meskipun kemana-mana saya tetap saja cengar-cengir nggak karuan. Tapi, dalamnya hati, mana ada yang tahu, iya kan? #AwalnyaSederhanaLaluCurhat

Lalu, pagi ini Wira mengirimkan pesan whatsapp yang (lagi-lagi) menanyakan masalah ‘Apa yang membuatmu bahagia?’ karena dia mempunyai versi kebahagiaan yang dia dapatkan dari The Beatles. *tiba-tiba di kepala saya mengalun satu lagu milik The Beatles yang judulnya ‘I wanna hold your hands’*
Continue reading “Happiness”

Benarkah kamu tahu?

Kamu benar-benar tak banyak tahu tentang aku.

Hal-hal kecil yang akan aku lakukan buatmu, misalnya.

Aku yang takkan lupa menelponmu sebelum kamu pulang kantor. Menanyakan jam berapa kamu akan sampai rumah. Sudah sholat maghrib? Jangan lupa makan. Aku harus mencatat di kepalaku bahwa kamu takkan memeriksa ponselmu dari waktu tidurmu hingga kamu tiba di kantor pukul sepuluh. Aku tak bisa apa-apa.
Continue reading “Benarkah kamu tahu?”

[#15HariNgeblogFF] [2] Dag dig dug!

Hatiku tak tenang. Berdegup kencang tak karuan.

Entah kenapa, sepagian ini aku merasakan bimbang. Tak enak perasaan. Menunggu kamu yang tak kunjung memberi kabar.

Kamu kemana sih, sayang?
Masa kamu tak ingin mendengar suaraku barang sebentar?
Atau menanyakan kabarku yang jauhnya berjengkal-jengkal?

Aku menghela napas panjang.
Continue reading “[#15HariNgeblogFF] [2] Dag dig dug!”

[#15HariNgeblogFF] Daftar tulisan judul [1] Halo, siapa namamu?

Ini dia teman-teman yang ikutan #15HariNgeblogFF hari pertama, 12 Januari 2012.

Judul : Halo, siapa namamu?

1. via @alizarinnn
2. via @nabilabudayana
3.via @netkirei
4. via @Mitakarima
5. via @husfaniputrii
6. via @abi_ardianda
7. via @adit_adit
8. via @icha4869
9. via @nyomnyomz
10. via @nadyapermadi
11. via @PPutriNL
12. via @WangiMS
13. via @Olga_imoet
14. via @syl_cmwc
15. via @rizaldyyusuf
16. via @_raraa
17. via @nara_mlg
18. via @nastiti_ds
19. via @psstBee
20. via @z417un
21. via @AyyCiiPlukz
22. via @bellazoditama
23. via @mbitmbot
24. via @afinarv
25. via @yurisditapp
26. via @ayudieta
27. via @windakrisnadefa
28. via @punyatari
29. via @teguhpuja
30. via @rishanilas
31. via @elmanohara
32. via @ikachibii
33. via @lida4ibu
34. via @putrianandas
35. via @ririntagalu
36. via @estipilami
37. via @TengkuAR
38. via @qiqienmuttaqin
39. via @deboratyaswe
40. via @duniDhani
41. via @fitapermatasari
42. via @danissyamra
43. via @nyuwi
44. via @DiariSobekk
45. via @auliaully
46. via @nufadilah
47. via @ayurisya
48. via @yukinahawmie
49. via @tymmoy
50. via @plut0saurus
51. via @biangkerok80
52. via @rayfarahsoraya
53. via @Idung_Jambu
54. via @raypiero
55. via @noninge
56. via @gifasta
57. via @ndha_andha
58. via @WahyuSN
59. via @umnad
60. via @firah_39
61. via @RaAyuh
62. via @momo_DM
63. via @hhildabika
64. via @StarLuverz
65. via @krisnafir
66. via @nindasyahfi
67. via @NisaCemulia
68. via @kakaakin
69. via @rinibee
70. via @ayuinsafi
71. via @RuriOnline
72. via @nalurii
73. via @winditeguh
74. via @rbennymurdhani
75. via @omidgreeny
76. via @exewriyan
77. via @hadisome
78. via @dreamofmay
79. via @rohmah_
80. via @rinhapsarina
81. via @byteregz
82. via @ingeynwa
83. via @sheiilarizkia
84. via @banggavan
85. via @minky_monster
86. via @inshonia
87. via @diafee
88. via @dwiagustriani
89. via @rachmalestari
90. via @putri_kania
91. via @justkinon
92. via @scholasticloren
93. via @laksmisatiti
94. via @desvianwulan
95. via @byondialfian
96. via @si_ucrit
97. via @rbestiningtyas
98. via @edithcamelia
99. via @WEIRDilawenny
100. via @fenty_lovegood
101. via @naddyapratiwi
102. via @shantyadhitya
103. via @noninge
104. via @iedateddy
105. via @sweetdonath
106. via @zabrinams
107. via @ibitsukma
108. via @warmx
109. via @rindrianie
110. Kamu…

Please let me know atau @momo_DM yah kalo kalau-kalau link kalian belum masuk 🙂

Sejumput memori tentang kamu

Cara untuk melupakanmu

Saya memang tipe orang yang sentimentil. Gampang menangis. Selalu mengingat detail-detail kecil. Bagi saya, setiap hal yang ada di sekitar kita menyimpan cerita. Mereka punya ‘nyawa’.

Hari itu, Minggu pagi. Dan bagi saya, bangun pagi di akhir minggu tak perlu dilakukan. Kecuali untuk pacaran. Sehari setelah peluncuran buku #AimezMoi, saya teringat kamu. Kamu yang jadi intisari novel itu. Kamu yang membuat saya betah duduk berjam-jam memangku laptop seraya saya menuliskan kisah kita. Hari Minggu itu juga, pertama kalinya semenjak 10 bulan yang lalu saya membuka lagi laptop kesayangan saya.

Saya ‘panaskan’ laptop saya dan tak sampai 5 menit, jemari-jemari sudah meloncat kesana kemari mengetikkan kata demi kata. Iseng, saya menggerakkan mouse ke satu folder lama. Napas saya tertahan. Di dalam folder itu, ada banyak kisah yang bercerita tentang kita. Menyesakkan rongga paru – paru saya.

Saya teringat pula dengan berbagai miniatur tentang kota Paris yang tergeletak rapi di salah satu sudut meja kerja saya. Mereka semua mengingatkan saya pada kamu. Kamu yang membuat saya menunggu. Kamu yang membuat saya jatuh hati dan punya segudang rindu yang menggebu. Kamu yang membuat saya tersenyum benar – benar lebar. Cuma sebentar, tapi efeknya bertahan lama.

Kamu membuat saya menunggu kabarmu tiap waktu. Kotak chatting yang tiba-tiba ‘pop out’, lampu indikator blackberry yang berkedip merah, atau obrolan pagi hari di pantry. Saya kerap kali menunggu itu semua. Pesan singkat tiap saya pulang kerja, tiap kamu selesai jogging atau pesan singkat saat adzan Shubuh berkumandang. Awalnya memang menyenangkan, tapi semenjak kamu memutuskan buat berhenti berjuang, semuanya jadi berat buat saya. Saya, penuh dengan penantian, berdo’a supaya kamu cepat tersadar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak ada kabar darimu. Kamu menghilang.

Harusnya kamu bertanya sama saya, ngapain saja saya ketika kamu membuat saya menunggu kamu? Saya kasih tahu yah.

Saya menulis tentang kamu. Saya. Dan ketakutan kehilangan. Very pathetic, saya tahu. Waktu itu, saya berpikir bila kamu sempat membaca tulisan tentang kita, mungkin kamu akan berubah kepikiran. Tapi, ternyata berbelok jauh dari yang saya pikirkan. Kamu tetap pergi, memilih untuk melangkah sendiri, lalu kita akhirnya saling menghindari. Eh, sudah bukan lagi ‘kita’ yah? Memang tak pernah ada kata ‘Kita’. Tak pernah ada.

Seharusnya tak perlu takut kehilangan, toh memang kamu tak pernah jadi milik saya.

Sekarang, saya ingin menceritakan kisah ini buat semua orang. Menunggu bukanlah hal yang saya favoritkan. Karena membosankan dan membuang waktu. Prinsip saya adalah tidak mau menunggu dan tidak ingin orang menunggu. Sangat sederhana.

Hari Minggu itu, benar-benar emosional. Betapa sebuah benda bisa menceritakan kembali sejarah tentang kamu dan saya, meski tak pernah kesampaian akhir cerita bahagianya. Dan waktu itu saya segera berpikir, kalau terus-terusan memikirkan kamu, saya takkan pernah punya kesempatan untuk diri saya.

Lalu, ada dia, yang datang ketika saya mulai lupa kamu. Dia mengajarkan saya bahwa tak seharusnya setiap benda memiliki nilai monumental. Mereka hanyalah sebuah benda. Terima kasih ya.

Kepada kamu, semoga semuanya baik-baik saja. Saya baik-baik saja. Walau jadinya aneh, karena ketika saya menuliskan ini, kamu tiba-tiba muncul di depan kubikel saya sambil menyodorkan miniatur Eiffel. Saya cuma bisa tersenyum simpul saja.

Saya pergi yah, boleh?

Saya do’akan kamu bahagia. Dengan siapapun nanti. Ikhlaskan saya pergi, saya sudah punya pengganti kamu. Maaf, karena tak bisa memberi kamu apapun, selain sejumput memori. Tak perlu khawatir, saya gak sakit kok, cuma sedikit kecewa.

Time will heal all pain, for me, it is you who decide to be cured or not. End of story.

Cinta tak perlu cuti sakit

Aku heran.

Heran padamu.

Bisa – bisanya mencintaiku tanpa kenal waktu. Setiap hari, tanpa mengeluh sedikitpun. Kamu bisa mencintaiku tanpa hari libur. 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tanpa menerima bayaran sepeserpun, bila memang harus lembur mencintaiku.

Dan kamu akan selalu menjawabnya ;

Biar saja tanpa jeda. Toh mencintaimu memberiku nyawa. Seperti nafas yang aku lakukan tanpa perlu perhitungan. Jadi untuk apa aku membutuhkan libur.

Aku ingin mencintaimu dengan caramu mencintaiku saat ini. Menjadikannya sebagai pekerjaan tetap tanpa basic salary, komisi atau tunjangan apapun. Mencintaimu tanpa bosan layaknya aku yang bangun di pagi hari, menyeduh 2 cangkir teh lemon dan berangkat ke kantor dengan berjalan kaki.
Aku mau mencintaimu tanpa rasa jenuh.

Continue reading “Cinta tak perlu cuti sakit”

Leah and Wisnu (part III)

At the MRT station in Singapore. The City hall MRT station. Leah rushes in through the MRT door at the west side. She needs to get to the airport very soon. She will have an overhaul long flight to Sao Paulo, Brazil this late evening.

Meanwhile, Wisnu decided to take the MRT from the airport after lining up for taxi but no cab available. This is the first time for him to take the MRT. He feels weird.

“Your MRT will arrive in 4 minutes. Be ready in the east side of the station.”

Wisnu has his self ready. 4 minutes. 3 minutes. 2 minutes. 1 minutes. MRT is coming into the station. Doors are open.

Leah is just about to jump off the MRT.

Then, here is the story.

Wisnu | Leah

I saw her | I saw him
I’d like to run into her and hug her | I ignored him. Pretending that i didn’t see him.
But, she just walked away | I wanted to say ‘I miss you’.
I broke her hurt | I can’t get over him.
She would never forgive me | Can we have another chance?
I love her. I always do. | I love him. Maybe always will.
I never told her that i love her | I guess he never loved me
Have you ever think of me? | Have you ever missed me?
Aku putus dengan Ratih | You’re in a relationship already.
Tuhan, biarkan kami berjodoh lagi | Oh my dear God, i need to forget him.
Aku akan menjaga Leah dengan baik | Aku tak bisa lupa dia. Tapi, aku juga tak ingin disakitinya lagi.
I can see the world in a brighter eyes every time she’s around | I feel safe like i’m home every time he’s with me.

Wisnu is in the MRT. Leah is in the airport. Both of them are sitting. Playing around with their minds. Saling menyesali kenapa tak saling menyapa. Saling memikirkan bagaimana perasaan mereka masing – masing saat ini.