What? Travel?

We finally decided to go to Japan last April. It was our first time dan basically Fadli (that’s my husband) yang lebih semangat buat pergi ke Jepang, meskipun yang melakukan semua booking dan mengurusi detailsnya adalah saya sendiri. Biasalah, para suami ini lebih malas kalau harus mengurusi hal – hal mendetil seperti ini.

Karena ini adalah perjalanan pertama kami ke jepang, maka kami (baca: saya) memutuskan untuk pergi dengan tur. Tur yang gak terlalu tur banget, nah loh gimana tuh ceritanya. Tur yang fleksibel dalam schedule ketimbang tur terakhir saya ke Korea bareng Mama dengan Dwidaya. Pilihan saya waktu itu jatuh pada Whatravel. Sebuah agen tur dan travel yang affordable (sesuai dengan bio yang tertulis di Instagram Page mereka).

Dan karena saya sudah follow akun IG mereka sejak mereka muncul pertama kali berkat saya follow akun IG dan twitter Mas Ariev Rahman, so I put my trust in them for this trip. (Lain kali percayanya ama Tuhan aja jangan ama agen tur travel cuy) I mean ini Mas Ariev gitu yang menurut saya oke banget pengalaman travelingnya dan dia punya bisnis sampingan ini, tentu saja menurut saya ini bakalan kece banget. Saya lupa kapan pastinya mereka mulai menjual paket tur Japan Sakura bloom (mungkin sekitar Agustus – September 2017) dengan harga IDR 14,500,000 sesuai dengan poster yang mereka post di akun IG mereka, harga tersebut sudah termasuk dengan return full service flight (cathay pacific), hotel (Tokyo, Osaka, Kyoto), Tiket Willer Bus ke Tokyo, Shinkasen experience (Osaka – Kyoto one way), dan juga travel buddy. Harga diatas tidak termasuk dengan biaya pengurusan visa jepang, makan, asuransi, biaya masuk ke tempat-tempat turis, kebutuhan personal. Belum terlalu details, karena waktu itu saya berpikir bahwa details pasti akan disampaikan 1-2 bulan sebelum keberangkatan. 

Pembayaran tur ini bisa dicicil beberapa kali dan saya melunasi biaya tur tersebut di akhir bulan Desember 2017 atau awal Januari 2018, couldn’t remember to be exact. Setelah itu sekitar bulan Februari, beberapa kali saya menanyakan kepastian tentang trip ini dan detil lainnya seperti jam keberangkatan, hotel, itinerary. Kenapa? karena saya butuh dokuen tersebut untuk pengurusan visa Jepang (fyi, saya dan suami tidak menggunakan e-paspor), dan dikarenakan keberangkatan di awal bulan April tentu saja kami ingin mengurus visa lebih awal supaya kami bisa mempersiapkan apabila (mungkin) permohonan visa kami ditolak. Setelah beberapa kali menanyakan via whatsapp yang selalu dibalas dengan, “Mohon ditunggu ya kak, paling lambat minggu depan akan dikirimkan.” atau dengan balasan lain, “Nanti malam akan dikirimkan.”, akhirnya saya baru menerima semua dokumen tersebut pada tanggal 20 Februari 2018. Itupun dengan detil hotel di Kyoto masih dikosongkan dengan alasan mereka belum mendapatkan konfirmasi karena semua hotel sudah fullbooked. 

Tentunya, saya mencoba mengerti keadaan itu, dan tetap memasukkan aplikasi visa Jepang bersama dengan suami saya yang selesai kira – kira di pertengahan bulan Maret. Fyi, grup whatsapp Japan Trip ini dibuat di tanggal 11 Februari 2018 dengan kondisi bahwa semua peserta belum menerima hotel booking dll. Dengan janji bahwa ketika semua sudah fixed, mereka akan mengirimkan semuanya, tapi ternyata ketika dikirimkan masih ada yang kurang.

Setelah mengirimkan detil – detil diatas (yang gak detil juga sih), Mas Nugie juga menginfokan tentang akan diadakannya pre-trip briefing 2 minggu sebelum keberangkatan. Okelah, kami santai. Ketika kami masih belum mendapatkan detil mengenai itinerary secara lengkap, transportasi, hotel di Osaka; saya memeutuskan untuk tetap membeli tiket ke USJ, dengan asumsi akan berpisah dengan para peserta lainnya apabila memang tidak searah. Hingga 2 minggu sebelum keberangkatan, masih tidak ada tanda – tanda akan diadakan pre-trip brifing. Saya sudah 2 kali menanyakan tentang transportasi dan detil lainnya via wa (japri) ke mas nugie tapi tidak terjawab, saya masih mencoba positif, mungkin Mas Nugie-nya sibuk. Lalu, tiba – tiba saya melihat IGs Whatravel yang memperlihatkan bahwa para petinggi Whatravel ini sedang dalam perjalanan menuju Kenya. Lhooo gimana? Gak ada info mengenai pre-trip briefing, gak ada info details mengenai hotel di Kyoto, gak ada info mengenai detil transportasi kok tiba – tiba pengurusnya udah sampe benua Afrika. Dan travel buddy yang seharusnya adalah Mbak Seruni, tiba – tiba diganti dengan Mbak Arin. Kita tak ada masalah mengenai ini, karena ternyata Mbak Arin jauh lebih kooperatif daripada travel buddy sebelumnya dan pengurus Whatravel yang lainnya. At least, lega. Hingga, seminggu sebelum keberangatan, masih belum ada briefing dan akhirnya kami baru diinfokan bahwa selama trip di jepang, semua biaya transportasi akan ditanggung bukan oleh Whatravel tetapi oleh peserta masing – masing.

Here comes the trouble, apabila memang kami diharuskan untuk menaggung sendiri semua biaya transportasi bukankah lebih baik diinfokan mengenai hal tersebut sedari awal ketika kami request semua details whats included and excluded instead of pihak whatravel baru menginfokan detil tersebut beberapa hari sebelum keberangkatan. Bahkan briefing diadakan atas inisiatif salah satu peserta trip. Lalu yang lebih mengagetkan, pihak Whatravel kehabisan kamar di Kyoto sehingga kami tidak lagi bermalam di Kyoto melainkan akan tetap stay di Osaka dan melakukan perjalanan bolak – balik ke Kyoto. Semua info itu kami dapatkan hanya dalam kurun waktu satu minggu hingga sebelum keberangkatan.

Kaget? Pasti. Kapok? Eeeenngg ntar dulu. Saya masih mencoba untuk tetap positif. Hingga saat hampir semua peserta trip meminta konfirmasi kepada pihak Whatravel dan saya menyebutkan bahwa ketika seharusnya sudah ada pre-trip briefing 2 minggu sebelum keberangkatan tetapi para pengurus Whatravel pergi ke Kenya, adalah jawaban dari mereka yang membuat saya langsung kecewa.

I quoted, “Kita gak liburan ya, tapi untuk riset trip baru.”

Yang sebenarnya ingin saya jawab, “Saya gak peduli sih asalkan urusan trip ini udah beres sebelum keberangkatan kalian ke Kenya, After all, we’re customers.” Coret, saya urung mengatakan itu. Saya justru mengatakan, “Oh oke Mas/sorry Mas, saya gak tau.”

Jangan kuatir, daftar kekesalan saya makin panjang ketika kami memulai perjalanan. Mulai dari grup kami yang terpisah di penerbangan tanpa ada pemberitahuan baik dari Whatravel maupun dari Cathay, hanya ada satu travel buddy untuk handle 19 peserta (that’s not enough), naik turun subway dengan seret koper besar untuk mencapai hotel, airport limousine yang tidak dtemukan dimana – mana, terpisah lagi dalam perjalanan ke Tokyo dengan Willer Bus dan masih banyak lagi. 

Jadi apa sih daftar kekecewaan saya akan Whatravel?

  1. Saya harus bertanya beberapa kali untuk mendapatkan info tentang booking hotel, flight ticket dan itinerary
  2. pre-trip briefing 2 minggu sebelum keberangkatan? tet tot, gak ada. Kami briefing beberapa hari sebelumnya tanpa ada perwakilan dari Whatravel dan hanya dipandu oleh Mbak Arin sebagai travel buddy (yang ternyata bukan team Whatravel)
  3. Tidak transparan mengenai what’s included and excluded dalam paket trip dan malah menjawab, “Loh ini kan backpacker trip, jadi seharusnya sudah tahu kalau transportasi tidak ditanggung.” Ehm sorry nih, dimanakah itu tertulis?
  4. Itinerary yang dikirimkan tidak details, dan kami hanya mendapatkan detil itinerary secara lengkap atas inisiatif Mbak Arin selaku travel buddy.
  5. Satu orang travel buddy untuk handle 19 orang? You gotta be kidding me right? Kami sampai sudah terpisah entah berapa kali di subway yang sumpah ngalahin penuhnya KRL Bogor – Jakarta di hari Senin.
  6. Kami harus pindah hotel 2X selama di Osaka karena tidak mendapatkan hotel di Kyoto (penuh cyiiiin kata Whatravel, itu artinya apa? gak dari jauh – jauh hari prepare)
  7. Harus tiba – tiba prepare lagi mengenai biaya transportasi karena ada komunikasi yang tidak clear dari pihak Whatravel yang juga meminta kami ‘to do the math’ dengan harga segitu gak mungkin transportasi include. Duh cara jawabnya itu loh ngeselin benernya. 
  8. Ada pesertanya yang missed belum dapat visanya udah jadi atau belum beberapa hari sebelum keberangkatan (visanya diurus oleh Whatravel)
  9. Terpisah di penerbangan menuju dan kembali dari Jepang
  10. Terpisah dalam 3 keberangkatan yang berbeda di perjalanan Osaka – Tokyo dengan Willer Bus.
  11. Deg-deg-an bakal telat flight balik gara – gara nunggu airport limousine untuk ke airport yang gak kinjung datang. Pesawat balik sekitar jam 6/7 pagi (direschedule) dam di jam 4.30 kami masih belum nemu itu airport limousine ada dimana letaknya. Akhirnya, kita semua split naik taksi, dan tiap taksi diisi 2-4 orang tergantung besar koper. Dan lagi – lagi kami terpisah menjadi 2 grup beda penerbangan, sisa peserta terbang dengan flight jam 10.35. Stres juga loh deg-deg-an bakal ketinggalan pesawat atau enggak gara – gara agen travelmu gak prepare kalau ada case jam flight diubah. 🙂

Shit happens dalam setiap trip kemanapun itu, hanya saja kekecewaan saya sudah menumpuk sejak awal ketika pihak Whatravel lalai menginfokan details trip ini. Lah kalo kayak gitu kenapa milih Whatravel? Iya saya tergiur dengan harga trip yang terjangkau daaaaann karena saya merasa kenal dengan Arif Rahman, salah satu founder-nya. Jadi kesimpulannya, daripada ikut (backpacker) trip mendingan sekalian aja ikut tur dari travel yang memang terpercaya. Hingga saya berpikir, kelak kalau ke Jepang lagi mendingan pergi sendiri aja deh kalau biayanya juga segini juga. 

Gimana kesan-kesannya setelah pergi ke Jepang dengan Whatravel? Kapok sih, dan kemungkinan gak akan pakai jasa mereka lagi, mungkin kelak akan pakai lagi, semoga mereka bisa memperbaiki kualitas. Saya menulis ini bukan untuk menjatuhkan Whatavel kok karena saya lihat trip – trip lain lumayan sukses, hanya saja rasa kecewa saya masih belum hilang.

(per hari ini, ada yang meninggalkan komen di salah satu post IG saya mengenai salah satu trip backpacker yang dikerjakan oleh Whatravel, yaitu trip ke Rusia. Infonya juga sama, pemberian itinerary yang mendadak sampai perubahan hotel yang juga diinfokan mendadak. Catatan: ini untuk trip backpaker yang dihandle Whatravel)

Travel buddynya gimana? baik hati dan selalu berinisiatif. Meskipun saya dan suami terkadang sering misah untuk jalan sendiri (supaya mengurangi beban Mbak Arin yang harus handle 19 orang), mbak Arin ini sabar banget (PS: butuh kontak Mbak Arin? bisa klik diatas yah, dia suka handle trip ke Korea/Jepang juga dengan harga terjangkau)

Teman – teman yang mungkin membaca kolom komentar berisi kekecewaan kami (bisa dilihat disini) para peserta trip Jepang di salah satu IG post Whatravel, (itung – itung sekalian main ke IG pagenya, mereka sebenarnya punya list trip yang lumayan oke) jangan berkecil hati yah, supaya gak salah pilih, selalu tanyakan detil trip yang ingin kalian ikuti sedetil-detilnya selengkap-lengkapnya untuk kenyamanan perjalanan juga kan. Di post yang lainya, nanti akan saya share detil trip kami ini.

.

Published by

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s