Mas-nya mana?

La Dolce Far Nienthe, bahwa pemikiran dasar banyak orang yang kukenal adalah hidup akan terasa lebih menyenangkan ketika kita tidak perlu melakukan apa-apa. Istilah kerennya ‘ongkang-ongkang aja’. Well, that doesn’t work out for me. If I have to wake up every morning doing nothing, I’ll die of boredom. Banyak pekerjaan yang tidak akan cocok buatku; jadi istri pengusaha kaya yang tiap hari belanja ke toko-toko desainer terkemuka atau jadi sosialita yang tiap malam party sampai pagi.

Pekerjaan yang cocok buatku pun lumayan banyak, jadi fashion consultant, fashion blogger, atau fashion editor di salah satu majalah fashion terkemuka di Singapore. Well, semua yang kusebutkan di atas itu bukanlah pekerjaanku yang sesungguhnya.

Pagi ini, aku terbangun dengan kepala yang berdentum-dentum. Oh, aku ingat party sampai pagi. Wow, aku baru saja melakukan satu hal yang semestinya tak kulalukan di malam hari kerja, party sampai pagi. Apalagi hari ini, damn it aku benci hari ini, hari kamis adalah weekly meeting, meeting rutin untuk membahas masalah apa yang dihadapi oleh tim supply chain, sales, finance dan lain-lainnya; terlepas bahwa aku lahir di hari kamis, aku tetap saja tidak suka hari kamis.

“Kenapa sih benci banget sama hari Kamis?” George, my partner in crime, bertanya suatu hari.

“Karena George, aku trauma sama hari Kamis. Period.”

Jawabanku sama sekali tidak memberikan kepuasan pada George, yang by the way nama panjangnya adalah Georgia Malaika Raharjo, dan ya, dia perempuan, jangan tertipu hanya karena aku lebih sering memanggilnya dengan panggilan George. Panggilan yang hanya aku yang diperbolehkan untuk memanggilnya seperti itu.

“Eh cung, dimana-mana orang traumanya ama hal yang lebih penting. Bukan trauma ama hari kamis.”
Aku menarik rambut George dengan kencang.

“Eh bawel, suka-suka dong, trauma ama apa. Situ nanya, dijawab, senewen sendiri.”

“Dasar vandalisme! Sukanya nyiksa temen!”

“Hih! Bawel!”

Begitulah gambaran pembicaraanku dengan George setiap pagi. Iya, setiap pagi, kami bekerja di gedung yang sama, mana mungkin kami tidak bertemu di pagi hari, jam makan siang, jam pulang ngantor dan tidak saling mencela.

Satu dua hari menjelang weekend dan harus melakukan weekly meeting itu rasanya seperti sudah di-PDKT-in cowok ganteng tapi nggak diajak pacaran juga. Hari Kamis dan meeting, bukan kombinasi maut yang bagus.
Perjalanan pagi menuju gedung tempatku bekerja cukup dekat untuk ditempuh. Jalan kaki selama lima menit dan voila, aku sudah duduk manis di ruang kerjaku. Dan ya, sebagai seorang personal assistant CEO salah satu perusahaan retail besar di Jakarta, aku punya ruangan sendiri. Benar-benar sebuah ruangan, bukan kubikel. Life’s good.

Morning, Raya.”

Namaku Raya. Bukan Indonesia Raya. Bukan Raya Sentosa. Raya Kencana Pradyanta. Nama Jawa, muka peranakan Cina. Muka peranakan Cina, badan turunan bule. Tinggi gede. Dih.

Morning, Gerry. Coffee?

Ah itu Gerry, my dear boss. Bos paling pengertian yang pernah kupunya. Nggak bawel -maksudnya dia bawel kalo lagi banyak maunya aja- dan ngemong, kayak bapak sendiri. Padahal usianya hanya terpaut 8 tahun denganku.

Dan hari Kamis segera dimulai. Detik ini juga.
*

Gedung-gedung tinggi di bilangan Gatot Subroto ini rata-rata adalah gedung perkantoran, intinya, jalan menuju perjodohan itu mudah, mengutip kalimat yang seringkali diucapkan Georgia ketika dia baru saja putus dengan pacarnya atau sekedar butuh gebetan.

“Di sini cari gebetan gampang loh, Ya. Tinggal noleh kanan kiri aja pasti dapet deh. Elo mulus kinclong gini.”

“Njisss, kinclong. Dipikir mobil yang abis dipoles kali.”

“Kerjaan gimana cuy? Gerry gimana?”

Pertanyaan Georgia membangunkanku dari lamunan. Kami berdua sedang menikmati senja di salah satu restoran cepat saji di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Aku meletakkan burgerku yang sudah setengah kusantap di atas baki berwarna coklat yang dialasi kertas.

It was fine. Gerry juga okay kok. My dear boss is getting older by tomorrow. Besok dia ultah tuh.”

“Udah siapin hadiah?”

Aku mengangguk cepat sambil menyomot nugget ayam milik George diiringi tatapan matanya. “Udah dong. Starbucks Card, easy.”

Lalu, kami tertawa terkekeh. “Bos elo yang satu itu emang gampang banget ya disenengin sama kayak sekretarisnya.”

“Indeed. I’m easy to please.”

“Kata lainnya; murah!”

Dan lagi-lagi kami tertawa terkekeh. Ketika kami sedang tertawa bersama, tiba-tiba George berhenti tertawa dan melambaikan tangan ke belakang kepalaku, entah siapa.

“Raya, itu si Adam nyamperin kita, aku tadi minta dia kemari, dan dia bawa temennya kok.”

Siapa Adam? Another crazy good friend that I have, Adam adalah teman kami bersama semenjak kami duduk di bangku kuliah. Kami berbagi cerita, saling tahu pacar masing-masing, dan menjadi back-up plan bagi masing-masing teman. Iya, back-up plan yang melibatkan kencan buta yang berantakkan, misalnya. Kapanpun aku atau George terjebak di sebuah kencan yang entah itu membosankan, menyebalkan atau tidak bisa menahan keinginan untuk menggampar pasangan kencan kami, maka Adam akan datang. He saved the dates. Always. Good friends won’t let you do stupid things alone.

Dan biasanya hanya ada kami bertiga bila sedang berkumpul, tapi kali ini Adam membawa seorang temannya. Adam adalah seorang lelaki normal dan bila kedatangannya kali ini membawa seorang teman, maka ada hubungannya dengan kesendirianku yang sudah menginjak tahun kedua.

“Hai, Dam. How’re you doing?” Georgia memeluk Adam erat. Dan Adam balas memeluknya. Dikecupnya kedua pipiku lalu Adam mengambil tempat duduk di sebelah kananku.

“Temen kamu mana? Katanya sama temen?” George langsung saja memborbardir Adam dengan pertanyaan. Aku hanya tersenyum kecil.

“Sabar. Gue mau ngenalin Raya ke temen gue, kenapa elo yang semangat banget sih, George?”

“Iyalah, pengen tahu aja. Temen macam mana yang mau elo kenalin ke Raya. Aje gile, nggak boleh sembarangan ya.”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala saja. Kami bertiga terhanyut dalam cerita lama, betapa Adam dan Georgia merindukan masa-masa kami duduk di bangku kuliah, betapa George berubah menjadi wanita lajang masa kini dengan banyak pria mengejarnya dan Adam berubah menjadi lelaki yang bisa mengubah wanita manapun yang melihatnya jadi khilaf serta aku yang kata mereka tetap saja menjadi Raya yang lucu dan menggemaskan.

“Iya, aku mungkin lucu dan menggemaskan. tapi, belum punya pacar. Pacar mana pacaaarrr?”

“Ya ampun, Raya. Itu tuh kelakuan yang kayak gitu itu yang bikin cowok-cowok seneng ama elo. Ngegemesin.” Adam berkomentar karena ucapan sekaligus ekspresi wajahku yang mirip seperti salah satu stiker di aplikasi LINE.

“Ngegemesin ya, Dam? Kok elo nggak pernah ngajak aku pacaran sih?” Dengan asalnya aku bertanya pada Adam. Semua terdiam.

“Yaelah, bercanda kali. Kenapa diseriusin sih?”

Lalu, kami kembali tertawa, dan terlarut dalam canda. Mix max, kentang goreng, keripik kentang dan ice lemon tea sudah tersantap habis di atas meja. Kami sudah beerpindah restoran hingga tiga kali dan teman Adam tidak juga muncul hingga akhirnya berakhir di bangku penjual kaki lima di daerah Menteng.

“Temen elo udah dikasih tau kalo kita pindah ke Menteng, Dam?” Adam mengangguk cepat.

Ketika jarum jam bergerak ke angka 12 dan ini hampir tengah malam, dia akhirnya muncul juga.
Getaran listrik muncul dan menohok ulu hatiku ketika dia datang dan memperkenalkan diri dengan tiba-tiba kepadaku.

“Ya ampun, ternyata Adit toh yang kamu obrolin dari tadi, Dam?” George langsung saja menyambut akrab lelaki berkaos hijau dan dengan jins belel berwarna biru gelap. Oh iya, aku selalu memperhatikan orang dan tiap detil yang menempel di tubuh mereka. Dan senyum Aditya, sangat hangat dan menyenangkan.

“Eh ini siapa? Hai, Aditya.” Dia menjabat tanganku erat dan tersenyum hangat. Senyum yang aku tak pernah tahu akan sangat kurindukan kelak.

“Raya. Hai.”

“Indonesia Raya?”

There you go, guyonan untuk namaku. Tapi anehnya, aku tergelak mendengar guyonan yang dilontarkan oleh Aditya, entah mengapa. Padahal, aku sudah mendengarkan guyonan itu untuk entah keberapa kalinya dalam dua puluh tujuh tahun hidupku menyandang nama itu. Mungkin karena suara Aditya, atau senyumnya atau mungkin kilat nakal di mata Aditya yang membuatku makin menyukai setiap suara tawanya.

“Elo suka nge-gym juga, Ya?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Iya. Kenapa, Dit?”

“Berarti elo anak gelanggang dong?”

Kami bertiga terdiam. Tak mengerti dengan gaya bercanda Aditya yang satu ini. “Gelanggang? Maksudnya?”

“Kan gue lahir sepuluh tahun lebih dulu dari elo, Ya. Jadi gue gak tau gym dong, gue taunya gelanggang aja. Gue anak gelanggang. Elo anak gym, Ya.” Dan kami terkekeh. Garing sekali guyonan Aditya, toh tetap membuatku tertawa.

“Anak gelanggang mana, Dit? Gelangganngnya dimana?” Aku mencoba merespon guyonan Aditya. Yang dijawabnya dengan dua tangan terangkat ke atas dan bergaya ala penyanyi rap. “Di di dimanaaaaa?”

“Di hatimuuuuuu.”

Kali ini Adam yang merespon pertanyaan Aditya dengan tingkah laku lucu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dan pagi dini hari itu ketika aku pulang dan memasuki kamarku, aku tahu aku menyukai Aditya.

*

Aditya is typing … “So, who’s your lucky date tonight?”

Raya Pradyatna is typing … “Matt Damon, of course.”

Emot-emot muncul dan aku tersenyum menatap iPhone-ku. Ini sudah minggu ketiga aku berhubungan dengan Aditya via whatsapp messenger. Dan dia menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Aditya is typing… “I knew it. I knew you’re gonna answer with that ‘Matt Damon’ words.”

Raya Pradyatna is typing… “How about you? Who’s the lucky girl?”

Aditya is typing… “I’m a lone ranger tonight. Elo mau kemana abis nonton?”

Raya… “Hanging out with the girls. You?”

Aditya… “Pulangnya jangan malem-malem yah, Aya #pocecip. Gue kerja euy, on duty nih.”

Raya… “Ciyeeeee.. pocecip ceritanya. :))))”

Aditya… “Sekarang aku lagi ngebayangin kamu ada di depanku dan nge-ciyein aku dengan muka kamu yang ngegemesin itu dan pipi kamu yang kayak bantal.”

Dan aku terdiam. We’re still friends but I do believe that friends don’t give cute nicknames. Pipi bantal? This guy smells like trouble.

*
Sepucuk amplop berwarna coklat bertuliskan Parsons School of Design tergeletak di meja kantorku pagi itu dan menunggu untuk dibuka. Aku panik sekaligus senang.

“How do you like your enevelope today?” Gerry mengagetkanku dengan kehadirannya yang tiba-tiba. “I know you always want to have a diploma at Parsons, right?”

Aku tersenyum kecil. “One of my dream, Gerry. You know me so well.”

“The company decided to send you to Parsons in New York and pay the tuition fee. But, when you get back you won’t be working as my personal assistant anymore. You’ll be working with the fashion team assisting our fashion director, Melly. How’s that sound?”

Aku menganga. Ini sih impian jadi nyata. “Awesome!”

“So, when are you gonna be ready for the study?”

“I have to decide it now?”

“Do you want to think? I thought you’re in love, head over heels with fashion and Parsons.” Gerry memicingkan mata ke arahku. Sepertinya merasa tak yakin dengan keputusan yang telah dibuatnya untukku.

Termenung.
*

“So, how’s your day at work?”

Ini malam kencan kami. Hari Kamis. Dan dia rela mengemudi sejauh puluhan kilometer dari Karawaci menuju Jakarta hanya untuk menemuiku. Apa coba ini namanya? Hanya teman?

“Can’t complain, Dit. Enjoyable.”

“Khas kamu banget, Ya. Enjoyable.”

“Eh, maksudnya aku banget itu gimana?”

“Kamu banget itu colorfull. Positively cheerful. Enjoyable. Everytime I’m with you I always feel that I’ve met the best company that I’ve ever had.”

Aku tersenyum malu. “You too, Dit. You don’t need more addition, kamu itu positively charming kok.”

“And I need more of you around, Aya. Will you be around?”

“I’ll be around if you need me too, Dit.”

“Great! Likewise.”

Kecupan kecil di lesung pipiku dari bibir Aditya. “You’re my favorite pillowcheeks.” Wajahku memanas.

*
Georgia menatapku tajam dari tempat duduknya. Kami berdua berada di apartemenku dan menikmati dimsum.
“Dimsum ini siapa yang beliin, Ya? Ini dimsum yang biasanya kita beli di Menteng kan?”

“Aditya tadi yang beliin. Dia mampir ke kantor.”

“Dan status kalian apa sekarang? Teman?”

Aku terdiam. “Ya ampun, Raya. Kalian sih udah lebih dari teman ya. Semua yang Aditya omongin ke kamu itu bukan lagi modus. Itu perasaan. Kalian udah masuk dalam ranah casual relationship. You guys are dating each other.”

Aku memilih diam. “Kenapa kok diem aja, Ya?”

“Ya mau respon apalagi, George?”

“Nggak perlu juga sih nanya ke Adit tentang hubungan kalian. Toh, kalian udah sama-sama udah gede ini. Kalian sih sekarang adalah friends with the future tense chance.”

Aku memberikan Georgia pandangan aneh. “Coba ya Adit kok tau sih kamu suka makan dimsum? Lalu ada bubur ada nasi goreng gila segala lagi. Dimsumnya dari Menteng, nasgor gilanya dari Senayan. Wuidih, Adit bener-bener tau ya apa yang kamu suka makan di tempat kalian kencan itu ya, Ayaaaa.”

*

Another Thursday night date. He looks so adorable in another green poloshirt and jeans. He’s even sexier when he holds my hand. God, I like this guy.

“Malam ini kita marathon nonton film yuk, Ya.”

“Ayok! Internship dan Grown Up 2, gimana Dit?”

“Boleh banget. You’re my mind reader and my language decoder.”

“Ada-ada aja deh kamu Dit. And you’re my favorite encyclopedia on the book shelf. With you, I always know new things.”

“You’re my favorite nerd, Raya Pradyatna.” Dan kecupan cepat mendarat, kali ini, di bibirku.

*
This is frustating, another Thursday night. He holds my hand tightly, hugs me, and kisses me tenderly like it’s gonna be the end between us.

“Aku mau ngomongin tentang kita, Ya.” Aditya membuka pembicaraan.

“Ciyeeeee kita. So there were us ya Dit?”

Adit mencium gemas pipiku. “Indeed, my dearest healthy baby and pillowcheeks. Us.”

“Lalu, mau ngobrolin apa?” Hening dan jeda yang lumayan lama.

“Aku mau kita kayak dulu lagi aja, Ya. Being good friends, not more.”

This is some kind a shock therapy to me. After those kisses, hugs, holding hands, late night phone calls, Thursday night date and a quick date on Saturday, then we’re just good friends. Well, good friends don’t kiss on the lips each other.

“Mau kamu itu ya Dit?” Aditya mengangguk kecil.

“Can I ask you some things?”

“Shoot!”

“Kamu lagi jalan sama cewek lain, yes or no.”

“Yes.” Suara Aditya terdenGar lirih sekali. Oke, aku bisa mengerti. Lelaki mendekati lebih dari satu perempuan. Aku bisa mengerti.

“Kamu jalan sama cewek ini sebelum kamu jalan sama aku, Dit? Yes or no?”

“Yes.” Another shock therapy, rupanya malam ini penuh dengan excitement.

“Last question, cewek ini tahu nggak kita jalan bareng?”

“No.”

“Aditya Bagas Wiratama, I’m freaking mad at you. How could you lie to me? Kalau kamu memang berpikir we’re just good friends, kamu nggak akan bohong sama aku. Ataupun sama perempuan itu. How could you? Explain yourself!”

Aku menggunakan nada suara paling rendah yang aku bisa keluarkan mengingat kami sedang berada di tengah keramaian. Di tempat makan dimsum favoritkuku di bilangan Menteng.

“What if i don’t have a single explanation to you, Ya? Karena aku memang benar-benar jatuh hati sama kamu.”

“Bullshit! Do you even care about me , Dit? Do you even like me?”

“Iya.”

“Sekarang aku nggak tahu mesti percaya atau enggak ke kamu. I’m afraid that everything that you’ve ever said to me were lies.”

*

“Gerry, it’s a yes. I’m ready. Good to go to New York anytime.”

“Break some legs, girl. I know I can count on you. Jakarta, you better watch out. A new fashion designer is coming and hitting the city by the next two years.” Kupeluk Gerry erat. This is the right decision.

*
“I’m leaving ya, George, be good. Jangan lupa ngejenguk aku di New York.”

“Semprul, dipikir ke New York murah apa? Aku mau ke toilet dulu.”

Aku akan merindukan Georgia, sangat. Kami tak pernah berpisah lebih dari seminggu. Ding! Bunyi ponselku tanda sebuah pesan online masuk.

Aditya… “Is it true? You’re leaving Jakarta tomorrow? Gitu aja? Ngerasa nggak perlu pamitan ke aku, Aya?”

Kubaca pesan singkat di Whatsapp messengerku. Separuh hati aku senang, tapi sisanya aku masih sedih dengan perlakuannya kepadaku. Yours truly here ini, Dit, nggak bisa berhenti mikirin kamu, but a girl’s gotta do what she needs to do. Dan sepertinya ninggalin kamu dan mengejar mimpiku lebih penting saat ini.

“Eh mbak Aya, kok sendirian aja makan dimsumnya?”

“Enggak kok, tadi berdua ama temen.”

Si pedagang dimsum ini, Bang Jo, sudah melanjutkan dengan pertanyaan yang lain, “Masnya mana? Mas Aditya ya? Kok sekarang jarang kelihatan?”

Ingin rasanya kutusukkan sumpit yang sedang kupegang ini ke bibir Bang Jo lalu aku ingat bahwa dia tidak bersalah. Dia hanya bertanya tentang Aditya karena tempat makan dimsum di Menteng ini adalah tempat aku dan Aditya menghabiskan malam-malam Kamis kami untuk berkencan. Kuputuskan untuk akhirnya membalas pesan Aditya.

Raya is typing… “You’re full excitement, Aditya. And I’m happy when you’re around. And I miss you like a lot. But, I just don’t need more drama. See you when I’ll see you ya.”

Kumatikan iPhone-ku. Dan tersenyum sedih. Aku hanya ingin duduk tenang di sini sambil bercengkerama dengan Georgia menghabiskan hari-hari terakhir di Jakarta dengan tenang dan bukannya-untuk-ditanya-tentang-mas-Aditya-nya-mana-kok-sendirian-aja oleh Bang Jo di sini.

Duh.

*diikutkan untuk #NulisKilat @_PlotPointdan @BentangPustaka 2013*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: