Pulang

"Halte busway berikutnya adalah halte bendungan hilir. Penumpang yang akan melanjutkan perjalanan menuju… "

Aku tak lagi memperhatikan suara rekaman operator di busway yang sedang kunaiki. Beberapa penumpang, coret, hampir semua penumpang memutuskan untuk turun di halte benhil ini. Kutatap pantulan diriku di pintu kaca. Celana yoga warna hitam melekat pas, sepatu abu-abu ungu, dan kacamata rayban ber-shade cokelat bertengger di telingaku. Aku memang suka mengenakan kacamata hitam meskipun berada di dalam ruangan. Bentuk mataku yang lumayan sipit membuatku merasa tidak percaya diri.

Kondektur busway dengan senyum manis serta lesung pipi sesekali mencuri lihat ke arahku. Ibu dengan baju biru dan jilbab senada tampak sedang melamun. Lelaki dengan baseball cap tampak asyik dengan dunianya sendiri. Aku yakin dia juga akan menuju sebuah gym di mall di daerah sudirman. Aku bisa menebak tujuan si lelaki dengan baseball cap dari pakaian yang dikenakannya. Oh tentu saja juga dari otot bisepsnya yang terlihat sempurna di balik kaos olahraganya. Perempuan normal manapun pasti bersedia bila dipeluk dengan biseps yang sempurna seperti itu, termasuk aku.

Busway berhenti dan pintu terbuka. Semua orang berdesakan keluar dan beberapa calon penumpang berebutan menghambur ke dalam.

‘Tenang dong, warga Jakarta. Masih cukup banyak tempat kosong di dalam busway ini.’ Aku membatin dengan mengarahkan badanku mendekati si kondektur busway.
Bau parfum si kondektur mengingatkanku padamu. Bukan, sebenarnya bukan bau parfum. Ini adalah bau pewangi pakaian yang sama seperti pewangi pakaian yang selalu kamu gunakan. Kata orang Jawa, apabila kita mencium bau yang mengingatkan akan orang lain, biasanya orang itu memang sedang memikirkan atau merindukan kita.

akupun tersenyum sendiri. Kamu? Teringat atau merindukan aku? Aku bersedia lari 7 kali mengelilingi stadion gelaran bung karno bila memang hal itu terjadi. Sudah hampir 3 minggu kita tak lagi bicara ataupun berkomunikasi dalam bentuk apapun sejak kejadian itu. Kejadian yang membuatku malas bicara denganmu.

Aku bersandar di dekat pintu busway. Si kondektur tersenyum padaku. Dan ya ampun, senyumnya mengingatkanku padamu. Brengsek.

"Halte berikutnya adalah haltr gelora bung karno, penumpang yang akan turun di halte ini dipersilakan menuju pintu bagian tengah."

Aku dan si lelaki basbleball cap sama-sama menuruti permintaan si operator. Beringsut ke bagian tengah busway.

"Hi, suka nge-gym juga? Aku serinh lihat kamu latihan di gym di lantai 4 FX Sudirman. Treadmill mati-matian."

Aku tersenyum lebar. Agak terkejut karena si lelaki baseball cap menyapaku duluan dan bahkan mengingatku sebagai si gadis yang lari di atas treadmill.

"Begitulah. Kamu juga suka nge-gym?"

"Yep. Awalnya cuma untuk ngisi waktu luang. Tapi, ternyata ada yang bisa diperhatikan di tempat gym itu. Kamu."

Oh well, gombalan pagi hari. "Engg.. terima kasih?"

Pintu terbuka dan si lelaki baseball cap mempersilakan aku untuk keluar terlebih dahulu.

"Awas.."

Aku hampir saja menabrak seseorang yang juga akan masuk ke dalam busway.

"Maaf ya."

"Enggak. Saya yang minta maaf."

Suara itu seperti suaramu. Kudongakkan kepalaku. Dan itu memang kamu. Antrian penumpang yang akan masuk mulai tak sabar menunggu adegan di pintu busway ini.

"Rubi…"

"Arya?"

"Hey gym girl, wanna join me or no?" Si lelaki baseball cap menarik tanganku.

"Sori, aku duluan." Aku tak tahu apa arti pandangan itu, Arya.

Tapi, yang jelas aku senang kamu sudah pulang. Meski tak sendirian. Tanganmu yang lain sedang sibuk menggandeng tangan entah siapa perempuan di sebelahmu itu.

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: