Aku Benci Kamu Hari Ini

“Selamat ulang tahun, sayang Rubi. Semoga bahagia selalu betah bersamamu, ya.”

Pesan singkat di whatssapp messenger yang kamu kirimkan membuat saya mengalihkan perhatian saya dari semua pekerjaan yang sedang saya kerjakan. saya baca berulang-ulang selama lima menit sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetikkan jawaban untukmu.

“Terima kasih, Dimas. I pray for all the best thing in the world for you.” Saya tambahkan emoticon senyum lebar.

“Yes, thank you dear. And the best thing that happens to me is probably you.”

Lagi-lagi, jawabanmu membuat saya terdiam seketika. Kamu selalu punya cara tersendiri untuk mencuri perhatian saya. Kuberikan emoticon tersenyum lebar lagi sebagai jawaban dari pernyataanmu tadi. Aku sedang tidak mau berharap terlalu tinggi pada apapun di hari ulang tahun saya.

“Ingin makan kue apa hari ini, Rubi?”

“Bolu pandan E.T Bakery. tempat beli kue yang dulu pernah kamu beritahu itu, Dimas.”

“Ah, bolu pandan enak. Lembut seperti pipi kamu.” Dan sekali lagi, kamu membuat saya melayang tinggi. “Nanti, kalau kamu beli, jangan lupa bagi-bagi ya, Bi.” Kamu melanjutkan.

Aku tergugu. See, bahkan dalam waktu hanya beberapa detik saja, kamu bisa menjatuhkan perasaanku. Kamu tak berniat menemaniku untuk membeli bolu pandan itu. Hanya sekedar berkata-kata saja, khas kamu. Sekejap kamu baik, sekejap kemudian kamu dingin dan tak peduli. Herannya, saya pernah (akan) jatuh cinta kepada kamu. Terkadang, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri apa sebenarnya mau kamu.

Saya mengingat kembali isi semua percakapan yang pernah kita lakukan. Tentang lagu pernikahan, tentang bolu pandan, tentang arti bahagia, the beatles, semuanya bermain kembali di kepala saya begitu saja.

‘Oh, Aku benci kamu, Dimas.’ Ingin sekali saya tuliskan kalimat itu sekarang juga.

“Rubi, can we meet? I miss you by the way. I miss talking to you. Aku kangen ngobrol sama kamu. I miss having you around here.”

Deg! Dan well, Dimas, kamu berhasil membuat saya kembali terombang-ambing. Saya tidak bisa memutuskan apakah saya membenci kamu atau sebenarnya saya benar-benar sayang kamu.

“Well, aku benci kamu, Dimas. Hari ini.”

“Maksudnya, Bi?”

Sudah biar saya saja yang tahu bahwa sebenarnya saya tak pernah bisa membenci kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: