Karena Kita Tidak Saling Kenal

Berjejal dalam antrian panjang Starbucks, aku mulai berpikir tentang apa yang aku ingin minum sore ini. Tidak, aku tidak suka minum kopi. Hanya saja aku begitu menyukai racikan minuman kedai kopi yang satu ini, green tea, chocolate beverages, tapi yang jelas bukan kopi. Perut dan metabolisme tubuhku intoleran sekali dengan kopi.

Kuserahkan kartu Starbucks-ku pada si kasir, si kartu tergesek dan aku menunggu dengan sabar untuk pesananku. Kugenggam gelas green tea blended dengan tambahan white chocolate pudding dan caramel frappucino, keduanya ukuran tall dan extra whipped cream. Keduanya favoritku dan juga favoritnya.

Kulangkahkan kakiku menuju meja di dekat jendela kaca, dan tanpa sadar kusentuh rambutku, kuarahkan ke balik daun telingaku. Suasana kedai kopi sore ini tidak begitu ramai, hujan yang menjadi penyebabnya. Aku menebak banyak orang yang memilih untuk tetap tinggal di kantor atau rumah mereka daripada menembus liar dan macetnya jalanan Jakarta.

“Your caramel frappucino.” Dia tersenyum. “Terima kasih ya.”

Lalu, kami berdua akan duduk berhadapan, berdua saja, tidak mempedulikan keadaan sekitar ataupun riuhnya suasana kedai kopi. Seperti biasanya. Hanya saling diam dan berbicara sesekali. Buat kami itu cukup, untuk saat ini.

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apakah bosmu masih suka melucu?” Dia memecah keheningan yang ada diantara kami.

“Yes, work is fine. Dan bosku tetap hobi melucu.” Kami sama-sama tersenyum dan tanpa sengaja jemari kami saling menyentuh. Kurasakan aliran listrik menjalar hingga ke punggungku. Kami selalu bisa berbicara meski tanpa melibatkan banyak suara. Seperti kami bisa membaca pikiran kami satu sama lain.

“Bagaimana muridmu hari ini? Mereka asik gak?” Aku balik bertanya sebagai reward karena dia telah bertanya padaku terlebih dahulu.

“Mereka bukan muridku. Ehm.. apa ya.. aku kan personal trainer mereka, tapi ada satu yang selalu tersenyum ramah padaku, pura-pura tidak memperhatikan aku. Dia cantik sekali.”

Kurasakan sengatan sakit di dalam dadaku. Aku menolak memanggilnya dengan nama cemburu.

“Wow, kamu tahu namanya? Kamu ajak dia berkenalan?”

Dia melihatku dengan binar rasa sayang. Bukan pertama kalinya aku melihat binar itu di bola matanya.

“Aku lebih ingin mengetahui tentang dirimu. Apa yang ada di pikiranmu setiap kali kita menghabiskan waktu bersama, bagaimana kamu bisa mengerti aku..”

“Kita tidak bisa lebih dari ini, kamu tahu itu.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kita sudah membuat komitmen. Karena tidak saling..”

“Kenal”, Dia melanjutkan kalimatku,”Tapi, saling melihat dari kejauhan di gym tidaklah cukup buatku. Saling memperhatikan dari balik cermin ketika kamu berlari di atas mesin treadmill atau tersenyum kecil ketika kita berdua berpapasan pun belum cukup.”

Aku beranjak dari dudukku. “Aku tahu bahwa kamu tahu aku suka minum green tea. Sekarang mulailah untuk mengenalku lebih jauh. Dimulai dari mencari tahu namaku.”

Kucium pipi sebelah kanannya.

“Aku tahu namamu, Katya”, aku berhenti dan membalikkan badanku, tanpa sadar menyentuh rambutku, “Dan aku tahu bahwa kamu selalu menyentuh rambutmu bila kamu gugup, aku tahu kamu suka mengerucutkan bibirmu bila aku berbicara terlalu keras pada muridku, aku tahu bahwa kamu ingin sekali selalu melihatku. Aku tahu bahwa aku dan kamu bisa lebih dari ini, meski kita tidak…”

“Saling kenal…”

Kami bertatapan dan merasa seperti sudah saling kenal. Lama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: