Conspiracy Theory

Mungkin aku terlalu sering menonton Forrest Gump hingga aku bisa hapal setiap dialog, setiap kutipan dan bahkan bisa menirukan mimik Tom Hanks ketika memerankan Forrest.

Salahkan kedua orang tuaku yang sedari dulu sibuk dengan pekerjaan mereka daripada memikirkan aku.

Entah apakah karena dialog dalam film itu memang memiliki arti yang mengena ataukah karena aku seringkali menonton Forrest Gump bersama dia. Dulu. Saat kami masih remaja.

Dimana Forrest bisa berlari selama 3 tahun dan menginspirasi kutipan Shit Happens, membuat aku percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini bukanlah berdasarkan kebetulan. Semuanya terjadi dengan alasan. Supaya kita belajar, supaya kita lebih dewasa, supaya kita lebih mengerti, atau supaya kita tahu apa yang kita mau.

I don’t believe in coincidence. No, I don’t.

Seperti 12 tahun lalu ketika dia pergi dan kami hilang kontak. Seperti 2 tahun lalu ketika kami secara tak sengaja bertemu lagi. Di bandara. Seperti 16 bulan lalu, ketika kami memutuskan untuk berpisah jalan. Untuk tidak saling memikirkan satu sama lain.

Dan sama seperti sekarang, ketika aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

“Bro, elo gak kangen Jakarta?” yang diiringi derai tawa Nolan.

“Lebih tepatnya, gak kangen ama gue?” kalimat ini diakhiri dengan semburan tawa Nora.

Jadi, disinilah aku, berjalan gontai keluar ke arah garbarata diiringi senyum menggoda dari pramugari berkulit eksotis. Well, kalau aku berminat, I would just do her.

Tapi tidak, aku cuma tersenyum kecil lalu melanjutkan perjalanan menuju baggage claim. Aku lupa. Aku tak perlu antri karena memang tak membawa koper. Hanya ransel yang kupanggul.

Kuhindari  para penumpang yang sedang bergerombol di dekat conveyor belt. Dan kulirik petugas baggage claim yang sedang kewalahan memeriksa tanda bagasi.

Dan kutemukan dia.

“Oh shit!”

Kudengar dia mengumpat sembari mencari-cari, yang kuyakin adalah tanda bagasinya, di kantong celana jeansnya.

Ini bukan kebetulan and I don’t believe in coincidence. This is just God’s another conspiracy theory.

“Elena, tanda bagasi kamu hilang lagi?”

Perempuan yang kupanggil Elena itu menoleh ke arahku.

“Iya nih, tanda bagasiku hilang la…”

“Oh shit! Daniel?”

Aku terseyum.

Tuhan memberikan kesempatan lagi. Dalam sebuah teori konspirasi.

Sebuah konspirasi bernama Elena.

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: