Hai, Halo, Terima kasih

Ketika pesawat mendarat di landasan dengan kasarnya, kemarahan Elena sudah mencapai ubun-ubun kepalanya. Ini sudah melewati batas toleransi. Dia benar-benar lelah. Bahkan, dia sama sekali tidak mendengarkan instruksi pramugari yang memintanya untuk tidak menyalakan ponselnya hingga dia berada di dalam gedung terminal.

‘Are you fucking kidding me? Because of the stupid delay, I won’t get to meet my client.’ Elena sudah ingin menjerit keras-keras pada si pramugari tapi diurungkannya niatnya. Bila dia harus melakukan itu, paling tidak dia harus melakukannya dengan elegan dan classy.

Elena berdiri dari seat-nya di baris ketiga dengan terburu-buru setelah melepaskan buckle safety beltnya. Kepalanya terantuk langit-langit kabin pesawat.

‘Ouch!’

“Are you okay, ma’am?” Seorang pramugari menghampirinya dan membantunya keluar dari baris seat-nya.

“No, I’m totally not fine. But, thanks.”

Si pramugari tetap tersenyum dan bersikap sangat keterlaluan ramahnya kepada Elena. Elena berjalan keluar dari pesawat dan menapak ke belalai garbarata dengan iringan terima kasih dari kru pesawat.

Ini pertama kalinya maskapai penerbangan ini mengalami keterlambatan, ya ampun yang benar saja, harga satu seatnya bisa mencapai ribuan dollar. Bukan rupiah. Dan Elena masih harus menderita karena pesawat mendarat dengan kasarnya. Terima kasih sekali untuk penerbangan hari ini.

Oh, tapi ada yang disukai Elena dari penerbangan pertama di Senin pagi hari. You can get in the flight with the most eligible bachelors in town. Karena menurut pengamatan Elena, banyak sekali pria-pria tampan yang suka mengambil penerbangan pertama di Senin pagi. Seperti sekarang, Elena bersebelahan dengan lelaki ganteng yang selama penerbangan hanya sibuk memainkan gadgetnya, membosankan. Tapi tetap saja ganteng.

Elena berjalan terburu-buru dalam sepatu studded loafer lansiran H&M berwarna fucshia dan terusan sepaha berwarna putih gading dengan motif abstrak berwarna gelap. Untuk ukuran wanita Indonesia, Elena bisa dikatakan sempurna. Dalam hal tinggi badan dan rambut hitam legam yang tergerai sepanjang punggungnya. Elena memiliki wajah yang cantiknya cukup dan senyum manis yang juga secukupnya, well, lebih tepatnya terkesan angkuh.

Dibukanya resleting tas Zara-nya dan dirogohnya ponsel di dalamnya dengan segera. Sembari membalas beberapa email yang masuk, Elena meraih pegangan trolley koper, dan mengamati layar untuk melihat di conveyor belt nomor berapa kopernya akan tiba.

“SQ960 ya? Belt nomor 3.”

Sebuah suara menghampiri telinganya. “Thanks.” Elena berkata tanpa menolehkan kepala pada si empunya suara. Dengan segera didorongnya trolley menuju belt nomor 3 dan mengambil tempat tepat di ujung conveyor belt sehingga dia bisa langsung menyambar kopernya dengan segera.

Sirine tanda bagasi telah tiba berbunyi nyaring dan conveyor belt mulai beroperasi. Lima menit, hanya ada beberapa tas punggung berukuran raksasa yang segera diambil oleh beberapa pria dengan kaos dan celana cargo yang berdiri tak jauh dari Elena.

‘Ah, bacpackers.’ Disempatkannya melirik gerombolan pria-pria itu dan mulai menilai mereka satu persatu. Ada empat pria tapi hanya satu yang mencuri perhatiannya. Pria dengan buku yang diapit diantara kakinya sementara dia mencoba memanggul tas punggungnya. Pria dengan buku itu seksi.

Sepuluh menit dan koper warna fucshia milik Elena masih belum terlihat. Lima belas menit dan obrolan singkat sesama penunggu koper di conveyor belt cepat berlalu karena sebagian besar penumpang telah mendapatkan koper mereka.

Tidak ada lagi pemandangan pria-pria tampan dalam lima menit ke depan. Elena mengutuk dalam hati. Diliriknya jarum jam, sudah jam delapan lewat lima belas menit. Dia sudah terlambat untuk meeting di area Sudirman.

Masih ada Elena, pria dengan topi Yankees berwarna biru gelap yang sedang membaca majalah, seorang perempuan manis dengan rambut yang diikat ekor kuda, gerombolan pria backpackers, lelaki berwajah sendu dengan rambut yang mulai berwarna kelabu dalam pakaian eksekutif, Elena menebak usianya empat puluhan, dan pria tampan penggemar gadget yang tadi duduk di sebelah Elena selama penerbangan.

Akhirnya!

Elena melihat warna fuschia dan dia yakin itu kopernya. Disambarnya si koper dan segera menanti tas tangan berukuran medium yang juga masuk ke bagasi pesawat. Itu dia! Sama-sama berwarna fuschia. Diletakkannya kedua koper dan tas tangannya di atas trolley, dan dia ingin segera angkat kaki.

“Permisi bu, boleh saya cek dulu tiket dan tanda bagasinya?”

Elena mengannggukkan kepala. Mencari tiket yang sudah ditempeli tanda bagasi. Tapi tak ditemukannya, alih-alih, dia hanya mendapatkan boarding passnya.

“Shit!” Elena merutuk dan petugas bagasi mundur selangkah.

“Sorry, mas. Sepertinya tiket saya jatuh. Biar saya cari dulu.”

Elena mencari-cari lagi di dalam tasnya, tak ada. Tangannya meremas saku bajunya, nihil. Elena hampir saja akan menangis. Ini benar-benar Senin yang buruk.

“Permisi, mungkin ini tiket kamu.”

Elena berputar mencari si pemilik suara. Dan memfokuskan penglihatannya pada selembar kertas yang digenggam si pemilik suara. Itu tiket dan tanda bagasinya.

“Ah, terima kasih banyak ya, ehm , maaf, namamu siapa?”

Ketika Elena mendongakkan kepala untuk melihat si pemilik suara. Elena terpaku.

Mungkin ini bukan Senin yang buruk. Mungkin ini memang cara Tuhan mengatur takdirnya. Mungkin juga alam semesta turut serta berkonspirasi mengaturnya. Dari semua tempat yang ada di bumi dan for God’s shake, ini Jakarta, kota besar dan kenapa harus bertemu dia di pengambilan bagasi?

“Oh shit!”

Dengan banyaknya perbendaharaan kata yang dimiliki Elena, hanya dua kata itu yang bisa dilontarkannya ketika melihat pria dengan kaos dan celana cargo serta mengapit buku mengulurkan tiket Elena kepadanya.

“Terima kasih mungkin pilihan kata-kata yang lebih tepat, Elena.”

Semuanya tiba-tiba berhenti. Dan disitulah dia, setelah belasan tahun berlalu, masa kanak-kanak yang terlupakan, tapi dia selalu diingat Elena.

“Ha .. Haiii.. Dan.. Ehm, maksudku ehm.. Terima kasih, eh halo, apa kabar?” Elena terbata-bata.

“Hai Elena. Lama tak jumpa.” Seru si pria bacpacker. Pria bercelana cargo.

Namanya Daniel.

‘Oh shit!’ Lagi-lagi Elena merutuk, kali ini hanya di dalam hati.

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: