Obsessive-Compulsive Crazy Love

“Katya…”

Namanya Landon, dengan lesung pipi dan mata berwarna coklat gelap yang bisa membuatmu seperti tenggelam ke dalamnya. Aku melihatnya pertama kali di terminal busway Jakarta kota arah Blok M.

“Sepertinya aku pernah melihatmu, somewhere, but i couldn’t remember.”

Aku tersenyum. Dia tersenyum juga. Lengkap dengan lesung pipinya, sepaket deh. Ganteng! Aku selalu memperhatikan dia dari terminal busway di Jakarta Kota hingga terminal busway di Sarinah, pemberhentian terakhirnya. BIasanya aku akan memilih untuk turun di Sarinah, sama dengan dirinya, lalu berjalan sedikit lebih jauh untuk sampai ke kantorku. Demi Landon. Tak apa.

Am I obsessed? I am!

“Kerja di mana, Katya?”

“Sudirman. Sarinah. Deket-deket situ aja.”

“Iyakah? Deket dong sama kantorku. Kantor apa?”

“Kantor consultant. Di BII Tower.”

Giliran aku yang salah tingkah.

“Kita satu gedung, Katya. Pantes aja aku ngerasa kayak pernah lihat kamu.”

Landon tak pernah tahu bagaimana aku bisa tahu dia. Aku tahu dia dari terminal busway. Senang bukan kepalang ketika tahu kami bekerja di satu gedung. Bahagia tak terkira ketika tahu bahwa jam pulang kantor kami sama. Yang lebih menyenangkan arah jalan pulang kami sama.

Maka, aku memilih untuk berjalan mengikuti dia dari belakang, diam-diam. Aku bukan stalker. Bukan penguntit.

Aku jadi tahu bahwa namanya Landon, karena satpam di gerbang perumahannya menyapanya dengan nama itu. Bahwa di depan rumahnya ada taman kecil dengan bangku tempat aku biasa duduk memperhatikan dia masuk rumah dan apa yang dilakukannya hingga jam 8 malam.

Aku mau tahu semua tentang ibunya. Lagu-lagu favorit yang dia dengarkan dalam playlist iPod-nya. Permen karet yang suka dia kunyah hingga napasnya begitu segar ketika kami berdekatan seperti sekarang. Aku ingin tahu buku apa saja yang dia baca selain buku tentang arsitektur yang dia pegang di dalam busway.

Di tengah-tengah pesta pernikahan sahabatku, Landon adalah pendamping mempelai pria, dan aku adalah bridesmaid-nya. Ini cara dunia mempertemukan kami berdua.

“Masa kamu pernah lihat aku di gedung itu, Landon? Coba inget-inget lagi deh.”

Landon berpikir.

Di ujung ruangan kami berpisah. Dia ke ujung paling kanan bersama para pendamping pria dan mempelainya. Aku ke arah kiri menunggu mempelai perempuan keluar.

Landon memandangku tak berhenti.

Ketika akad nikah telah usai, dia menghampiriku.

“Katya, apakah kamu si cantik di dalam busway yang selalu turun sebelum aku di sarinah?”

“Yang cantik di dalam busway banyak, Landon. Bukan cuma aku aja.” Aku tersenyum simpul.

“Yang cantik memang banyak, tapi cantik dan selalu melirik ke arahku, dan mengikuti pulang ke rumah, cuma kamu.”

Mukaku panas. Memerah.

“Maaf Landon. I just wanna know about you, but couldn’t find a way. I need to know your name, address, age, and where in the world you came from. Call me obsessed. I’m sorry.”

Landon tersenyum lebar.

“Tapi aku tak pernah menemui perempuan sepertimu.”

“Perempuan seperti apa? Sepertiku?”

“Perempuan yang memiliki obsessive-compulsive crazy love.”

Dan kurasakan pipiku dicium olehnya.

Landon.

*terinspirasi dari lagu Mindy Gledhill-Crazy Love*

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: