Marry Me

Awalnya hanya lima belas menit saja, lalu bertambah menjadi tiga puluh menit dan tiba-tiba saja sudah dua jam berlalu. Aku masih berdiri merapikan tumpukan kemeja dari Men’s Collection La Vida kepunyaanku. Bila La Isla Bonita adalah label untuk women’s collection-ku, maka La Vida adalah terobosan pertamaku dalam mengeluarkan koleksi untuk laki-laki. Tak sedikitpun aku berpindah dari rak-rak tinggi berwarna putih.

Kuletakkan kemeja berwarna putih, biru, pale grey, hitam sesuai dengan warnanya. Dasi dengan motif garis, celana dengan cutting berbeda juga kusendirikan.

Hingga tak terasa sudah jam makan siang.

“I need your opinion, i need a suit for a black tie party.” Suara seorang laki-laki dari arah punggungku. Kuasumsikan bahwa karyawanku sedang sibuk melayani pembeli yang lain apabila ada pembeli yang langsung bertanya padaku.

“Sure, you should wear black, in my opinion.” Kuambil jas dengan cutting yang sangat modern dan berbalik ke arah si empunya suara.

“What’s your size, sir?”

“I bet you know my size, Leah. It’s been two years.”

Wisnu, dalam balutan jeans, kemeja putih dan jas berwarna biru gelap, bayangan 5 o’clock shadow terlihat samar-samar di dagunya, adalah lelaki di balik suara itu tadi.

“Wisnu.”

“Leah, you’ve known me for two years dan kamu masih tanya berapa ukuran bajuku?”

“Try this.” Kuangsurkan jas beserta kemeja kepada Wisnu. Sebelum aku bisa melepaskan kemeja dan jas itu dari hangernya, sebuah pelukan hangat menyergapku.

“Kangen kamu banget, Leah. Kamu sibuk banget sampai-sampai gak punya waktu buat teman kamu ini.”

Pelukan terlepas. “Aku kangen kamu juga, tapi aku juga harus cari duit.”

Dan Wisnu mengacak rambutku. “Kamu ke Singapore kok gak bilang-bilang, Wisnu?”

“Kamu sibuk bukan? iMessage, Line, Email, telpon, mana ada balasan coba?”

“Maaf yah. Kamu sendirian aja? Mana Elena?”

“We broke up. Aku nyoba kemeja ini dulu ya, Le.”

“Wisnu, I’m sorry about you and Elena.”

Wisnu menyentuh pipiku. Lalu menghilang di balik ruang ganti.

Aku dan Wisnu memutuskan untuk berteman baik. Saling memberikan waktu untuk menemukan pasangan atau soulmate. Aku tetap sendiri selama dua tahun, tidak menerima lamaran Banyu dan tidak juga mengejar Wisnu. Wisnu memilih bersama Elena. Salah seorang akuntan yang bekerja di Morris & Partners dan juga salah satu pelanggan butikku. Aku yang mengenalkan mereka berdua. Dan mereka bersama selama dua tahun, aku menghilang dalam kesibukan butik baru dan koleksi baru di Singapore. Hanya bertemu sesekali, saling bertukar cerita lalu berpisah lagi.

“How do i look like?” Wisnu melangkah keluar dari ruang ganti. “You look stunning, as always, Wisnu.” Aku mengeluarkan Men’s Collection juga karena Wisnu. Supaya aku lebih sering melihat sosok Wisnu dalam balutan desain-desainku.

“Kamu mau yang barusan kamu coba?”

“Iyah. Dan kamu.”

Aku membeku. “Sorry, maksudmu?”

“Aku mau kemeja, jas itu dan kamu. Kamu selalu tahu ukuran baju-bajuku, kamu tahu aku suka sayur asem dan ikan asin, kamu tahu ketika aku sedang butuh kamu, kamu tahu saat aku butuh pendengar yang baik.”

Aku menyibukkan diri dengan mengambil jas dan kemeja yang diinginkan Wisnu. Beberapa pembeli masih ada di dalam butikku di bilangan Orchard Road. Singapura di bulan Juni selalu panas, menyengat dan lembab. Tapi, entah kenapa aku merasa kedinginan, mungkin karena air conditioner di dalam butik.

“We’re agree on being good friends.”

“Aku single, kamu single. I’m 36, and you turn 30 this year. Let’s get married. Marry me.”

“You gotta be kidding me, Wisnu.”

“Do i look like kidding to you? Aku gak mau sendiri lagi. Aku tak mau dengan orang lain. Aku mau kamu, Leah. Kamu mau denganku, aku tahu itu.” Kami berdiri berhadap-hadapan di balik rak-rak berisi dasi dan kemeja serta sepatu loafers keluaran terbaru.

“Kamu akan jadi istri yang sempurna. Ibu yang cerdas.”

“Aku nggak bisa masak, Wisnu. Aku nggak terbiasa bersih-bersih rumah. I’m not that perfect.”

“Aku akan memasak buatmu. Mais ada pembantu yang bisa melakukannya. Aku memintamu untuk jadi istriku. Bukan untuk menjadi asisten rumah tanggaku. Marry me.”

[to be continued…]

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: