The Proposal

Sudah 45 menit, dia berada di ayunan itu. Rambutnya digerai dan berkibar searah dengan arah angin yang bertiup. Ayunan sederhana itu hanyalah sebuah ban mobil bekas yang diikat dengan tali dan dikait ke dahan pohon oak. Sulit sekali menemukannya, sebulan sudah dia menghilang tak ada kabar. Dan ketika akhirnya aku bisa menemukannya, aku hanya ingin memperhatikannya. Itu cukup.

Ketika akhirnya dia berhenti berayun, aku sudah mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin untuk mendekatinya. Dia sedang bernyanyi lirih.

So I won’t let you close enough to hurt me
No, I won’t ask you, you to just desert me
I can’t give you what you think you gave me
It’s time to say goodbye to turning tables, to turning tables

Under haunted skies I see
Where love is lost, your ghost is found
I’ve braved a hundred storms to leave you
As hard as you try, no, I will never be knocked down

“Kelak, kalau kamu bosan menggambar, kamu musti jadi penyanyi aja ya, Le. Suara kamu enak begitu.”

Dia tersentak kaget. Lalu, tersenyum lega.

“Sudah berapa lama kamu di sini Wisnu?”

“Cukup lama untuk mendengarkan suara kamu. Enak banget. Kamu ngomong di telepon aja suaranya enak, ternyata nyanyi jagoan banget suaranya.”

Aku terkekeh. Dia tertawa.

“Dorong aku, Wisnu. Aku mau main ayunan lagi.” Kuberikan dorongan lagi dengan kuat, berkali-kali dan Leah berteriak kesenangan. Dan itu berlangsung selama setengah jam. Setengah jam penuh dengan tawa dan teriakannya. Menyenangkan.

Ketika akhirnya kami duduk bersandar di pohon oak, direbahkannya kepalanya di pundakku.

“Aku bohong sama kamu, Wisnu. Banyu pergi meninggalkan aku. Dia tidak cukup yakin apakah aku mencintainya. Buatnya pernikahan adalah kompromi.”

Dan aku mendengarkan dengan baik. Leah butuh pendengar yang baik.

*

“Kenapa kamu datang lagi, Banyu?”

“Aku mau kamu. Kamu tahu itu, Leah.”

“Kamu nggak bisa tiba-tiba pergi dan kembali lagi setelah dua tahun. Setelah dua tahun, aku bahkan nggak tahu kamu kemana.”

“Tapi, aku tahu apa yang kamu mau.”

“You’re a jerk. You can’t do this to me. Not when i’m about to start a relationship with someone new.”

“Let’s start it over. You and me.”

“Kasih aku satu alasan aja kenapa aku harus menikah dengan kamu? Kamu inget tanggal lahirku? Hari ulang tahunku?”

“Wait, i remember. I swear. It’s a… ehm…”

“Kenapa kamu mau menikah dengan perempuan yang kamu bahkan gak inget tanggal lahirnya? Why would you?”

*

“Jadi Wisnu, itu tadi ceritaku. Sudah dua kali aku diajak menikah, tapi keduanya gagal.”

Leah menolehkan kepalanya.

“Masihkah kamu mau menjadi temanku, Wisnu?”

“Even better. Aku mau jadi sahabatmu. Aku mau lebih mengenalmu.”

2 Comments

    1. Ahahaha.. tapi kalo disini kebalikan Dit. Wisnu itu si Oom. Kalo Banyu itu ehmmm siapa ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: