Sketsa & Vera Wang

Satu demi satu para model keluar ke arah runway. Mengenakan long gown dengan lace, ruffle, drappery, veil, train-tailed gown. Ivory white, cream, pearl white, semuanya warna dengan dasar putih.

Aku, Wisnu Pramudya, seorang investment project director, biasa bekerja di kantor hingga larut malam, sekarang duduk di barisan depan pekan fashion Jakarta bersebelah-sebelahan dengan para fashionista, sosialita, pengamat fashion dan jurnalis hanya untuk menyaksikan perempuan-perempuan berbadan ceking berjalan di runway memamerkan pakaian dengan harga puluhan juta rupiah.

Sepertinya perempuan memang benar-benar mengubah seorang laki-laki hanya dalam waktu sesaat. Aku, misalnya.

Aku berdiri. Bertepuk tangan. Menahan diri untuk tidak meloncat ke atas runway ketika akhirnya model terakhir masuk dan model pertama keluar menggandeng tangan sang desainer.

Rambutnya digerai, pertama kali ini aku melihatnya. Masih dengan kemeja berwarna putih dan celana jeans dibalut blazer bermotif houndstooth. Sepasang sepatu Louboutin berwarna nude membingkai kakinya yang jenjang.

Lalu dia tersenyum padaku.

*

“Terima kasih, Wisnu. Terima kasih atas bunga stargeizer lily-nya dan terima kasih sudah datang di peragaan busanaku.”

“Koleksi-koleksi kamu itu terinspirasi dari siapa Leah? Most of them are wedding gown. Classic one. Let me guess. Carolina Herrera?”

“Coba lagi.”

“Aku cuma kenal satu desainer perempuan saat ini. Kamu.”

Leah tersenyum simpul. Dan dadaku rasanya mau meledak. Di tengah-tengah hiruk pikuk belakang panggung fashion dan kilatan blitz kamera, kami berdua berdiri berhadap-hadapan.

“Vera Wang. Aku suka Vera Wang. One day, when I get married, I want to wear one of her design.”

“Aku pastikan itu terwujud.”

Dia tertawa.

“Aku mau ketemu model-modelku. Maaf, tak bisa menemanimu lebih lama. Tak apa?”

Aku mengangguk. “Terima kasih sudah mengundangku.

Leah berjalan menjauh. Aku berbalik.

“Ehm, Le? Can I call you? Once, twice, everyday?”

Leah tersenyum nakal.
“I thought you’ll never ask me.”

Aku malu. Lagi. Disodorkannya selembar kertas dari buku sketsa yang sedari tadi dibawanya.

“Le, kertas ini ada gambar rancangan kamu. Yakin dikasih ke aku?”

“Itu sketsa gaun pengantin yang aku mau dari Vera Wang. I think you might want to know.”

Sambil mengerling, Leah menambahkan, “Jangan lupa telpon aku.” Jari telunjuknya diarahkan ke kertas sketsa yang diberikannya padaku tadi. Dan dia bergabung dengan teman-teman modelnya.

Di balik kertas itu tertulis, ‘You could be my Matthew Goode. Call me. 081234348888.”

Dan, dadaku bergemuruh kencang lagi.

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: