Blueberry Muffin

Namanya Leah Isla Wiryawan. Dan dia seorang desainer.

Aku, dan mungkin seluruh penduduk Jakarta, mengenal dia dari puluhan billboard di ibukota. Bukan dia secara fisik, tapi rancangan baju yang seringkali dipakai oleh para selebriti dan para petinggi negara.

Saat itu hujan sedang mengguyur Jakarta dengan derasnya, dan kuputuskan untuk menunda waktu pulangku. Masuk ke coffee shop sebelah gedung kantorku demi menghindari menyetir mobil di tengah hujan badai. Selama 3 tahun aku bekerja, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk mampir ke coffee shop ini. Tak pernah.

Gemerincing pintu yang kubuka dengan bahuku dan riuh suasana coffee shop menyambutku. Hangat.

“Hot Caramel Machiato. Extra caramel. Muffin, blueberry ya.”

Kuedarkan pandangan ke seluruh coffee shop dan pandanganku berhenti padanya. Duduk di pojok coffee shop dengan buku sketsa dan pensil yang diselipkan di telinga. Rambut panjang diikat ekor kuda, kemeja putih yang terlalu besar dan celana ripped jeans, dia tampak bersahaja. Biasa dan apa adanya.

“Hot Caramel Machiato-nya, kak. With extra caramel. Blueberry muffin sedang dihangatkan.”

Setelah kuucapkan terima kasih, kuputuskan untuk berlama-lama berdiri berbincang dengan si barista manis bernama Sekar di coffee shop ini. Dari Sekar pula, aku jadi tahu kebiasaan perempuan berambut ekor kuda yang duduk di pojokan coffee shop ini.

Empat jam lamanya aku bertahan di coffee shop hingga akhirnya kuputuskan untuk segera pulang karena hujan telah reda. Dan dia masih tetap terlihat nyaman di sofa. Tidak beranjak, tidak terlihat lusuh, hanya terlihat bahagia. Ketika dia berdiri sembari membereskan barang-barangnya, kupersiapkan juga mentalku untuk menegurnya.

Ketika akhirnya aku berpapasan dengannya, dia sudah melakukan suatu hal yang membuatku mau mati saja. Tersenyum. Tersenyum padaku.

“Kamu barusan makan blueberry muffin ya?” Tegurnya.

Aku hanya tersenyum, mencoba terlihat cool. Jaim. Jaga Image.

“Remah-remah muffin-nya nempel semua di bibir kamu.”

Lalu, disodorkannya selembar tisu padaku sambil tetap tersenyum. Dan dia berlalu tanpa sempat aku mengucapkan terima kasih. Tanpa sempat bertanya siapa namanya, tinggal dimana, nomor telepon yang bisa kuhubungi, apakah dia perawan, janda atau sedang bertunangan dengan orang lain. Nihil.

Aku malu. Mau mati saja. Bukan begini caranya aku ingin memperkenalkan diri pada seorang perempuan yang mungkin saja bisa jadi jodohku kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: