Kenalan Yuk!

“Punya kartu debit bank ABC? Bisa gratis popcorn setiap pembelian dua tiket. ”

“Wah, iyakah? Tapi, saya tak punya, mbak.” Lalu, dia tersenyum. Lesung pipinya begitu dalam. Lelaki di depanku ini terbilang menarik. Kalau tidak karena perempuan centil di sebelahnya, mungkin aku sudah menggodanya habis-habisan.

“Dua tiket The Hobbit, seat B 22 dan B 23. Selamat menonton.”

“Terima kasih ya.”

Dan, kini aku benar-benar menyukainya.

Sudah hari ke-10, dan lelaki ini sudah sepuluh kali pula menonton The Hobbit. Dia mungkin akan memecahkan rekor Medina.

Seperti lelaki ini, Medina selalu menjadi pelanggan di bioskop ini. Setiap ada film terbaru, Medina akan menjadi orang pertama yang menonton.

Bagaimana aku bisa tahu Medina?

Oh well, kalau pekerjaanmu adalah penjaga loket tiket bioskop, kamu akan bisa menghapal wajah-wajah dengan hitungan menit.

Dan ya, Medina sangat mudah diingat.

“Hai mbak Renjani. Biasa ya. The Hobbit, Row B 21.”

“Kamu gak bosen liat film itu? Udah 5 hari berturut-turut loh.”

Medina akan dengan rela menjelaskan kalau itu semua karena Tolkien.

Pintu studio sudah mulai dibuka. Kusiapkan kacamata 3D untuk para penonton yang mulai mengantri masuk.

Aku memutuskan untuk ikut menonton The Hobbit. Gratis. Dan giliran kerjaku sudah selesai. Ini sudah minggu kelima penayangan film besutan Peter Jackson, studio sudah tak begitu ramai.

Baris E no 8, supaya aku bisa sedikit melirik ke arah lelaki dengan lesung pipi. Oh, tidak kulupakan si perempuan centil yang sibuk menarik perhatian lelaki itu.

Oh, aku tak punya kesempatan kalau perempuan itu memang kekasihnya.

Kuenyahkan pemikiran untuk mengajak lelaki itu berkenalan, aku tak mau dikenal jadi perempuan perebut pacar orang. Meskipun pacarnya kecentilan.

Selama satu jam pertama, kufokuskan pada adegan demi adegan antara Bilbo dan para kurcaci lucu di The Hobbit.

Lalu, dia turun. Melalui pintu keluar, dia menghilang. Iya, si perempuan kecentilan itu. Kuhitung menit demi menit yang dibutuhkan seorang perempuan untuk pergi ke toilet. Tapi, dia tak pernah kembali.

Aku punya kesempatan untuk mendekati lelaki lesung pipit itu. Tuhan Maha Baik, mungkin saja dia jodohku, apalagi kalau bukan.

Terima kasih, Medina. Kamu baru saja menghilangkan kesempatanku dengan lelaki yang bisa jadi dia adalah jodohku.

Lelaki itu sedang berbisik pada Medina, lalu mereka tersenyum penuh arti. Sekarang aku berharap bahwa Gandalf bisa menyihir Medina supaya menghilang saja.

Takkan ada kalimat ‘kenalan yuk sama aku’ buat aku.

*menyambar FF Adit Kenalan Yuk*

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: