Leah & Wisnu : Bunga Matahari

“Kamu suka bunga matahari?”
Aku kerapkali mendengar suara Wisnu ketika aku memandang fluorescence wall paper di tembok kantorku.

“Le, gak pulang? Udah malem ini. Are you planning to stay a night at the office?” Suara Yasmin mengagetkanku. Buru-buru kukemasi tasku.

“Gila yah Le, kamu tuh gak di Jakarta gak di Singapore tetep workaholic. Get a real life, Le.” Aku memutar bola mataku ke atas. Menenteng tas dan buku Dan Brown bersamaan. “Well, Yasmin sayang, i’m living in a real life. Like seriously.”

“Really?”

Berdua, Yasmin dan aku memasuki lift yang akan membawa kami turun ke lantai dasar.

“Iya, dan supaya kamu percaya, malem ini aku gak akan langsung balik ke hotel. I’m gonna get some drink, a little bit of shopping, and of course book thingy.”

Yasmin terkekeh. “You nerd, Leah.”

Kami berpisah di lobby.

***

Aku memasuki Kinokinuya,toko buku favoritku. Bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan permen. Menghabiskan banyak waktu di craft section. Kinokuniya punya koleksi kertas kado paling unik yang aku pernah tahu.

“Leah?”

Aku menoleh dengan masih menggenggam beberapa lembar kertas kado.

“Ya?”

Dan saat itu, I wish i didn’t see him.

Wisnu : “Hai, apa kabar?” [Aku kangen berat]
Leah : “Baik. Baik banget. Kamu?” [Kenapa kita baru ketemu sih?]
Wisnu : “Aku baik. [Aku gak pernah sebahagia ini ketemu kamu]
Leah : “Sendirian aja?” [Please, bilang iya.]
Wisnu :”Ehm.. Sama pacar. [Maaf,Le. Duh, harusnya gak usah bilang.]
Leah : “Oh ya? Mana pacarnya? [Lah, ngapa nanya tentang pacarnya?]
Wisnu : “Lagi di toko sebelah.”[Semoga dia masih disana]
Leah : “Oh gitu.” [Semoga pacarnya ngilang]
Wisnu : “Lagi cuti? Sendirian aja? [Say yes!]”
Leah : “Heem. [Ask me my phone number, Wisnu]
Wisnu : “Kita mesti ketemu lagi. No telpon kamu belum ganti kan,Le? [I miss you badly]
Leah : “I dunno. Gotta go, Wis.”[Gila, aku mau banget!]
Wisnu : “Gak mau aku hubungi lagi yah, Le?” [I want a second chance, please]
Leah : “Nomerku gak pernah ganti kok. Kamu yang berhenti ngehubungin aku kan?” [Mampus deh lo!]

Jeda

Wisnu : “Eh, kamu mau pulang? [Jangan dong,please! Mengalihkan perhatian sih ceritanya]
Leah : “Iyah, udah malem. Salam buat pacar kamu yah. [Let her burn in hell, i hope i never see her, like forever]
Wisnu : “Iyah. Ntar aku sampein. [Gak mungkinlah, bisa perang dunia ketiga ntar]
Leah : “See you. [Can i hug you? I miss you. Kiss me on forehead, please. Like you did]

Aku memilih untuk berjalan cepat menuju kasir. Membayar belanjaanku.

Wisnu : “Le, can i call you?”

Aku menoleh dan tersenyum pada Wisnu. Meninggalkan dia yang masih ada di dalam Kinokuniya.

***

“Good morning, sunshine!” Yasmin menyeruak masuk kubikelku keesokan paginya.
“Pagi, Yas.”
“You look diffeent today, Le.”
Aku tersenyum penuh rahasia sembari melirik fluorescence wall paper berbentuk bunga matahari di tembok kantorku.

One Comment

  1. sukaaaa >.<" I wish someone like Wisnu really had an inner voice like that.. (read: mantan semacam wisnu) aaah, sudahlah #abaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: