9 stasiun ke Duri

“Kowe arep budhal kuliah jam piro?” Mas Bram bertanya padaku. Logat Jawa-nya begitu kental terdengar.

“Sebentar lagi, mas..”

Aku menjawab perlahan sembari merapikan buku-buku diktatku yang bertebaran di atas kasur.

“Dadine wisuda kapan nduk?”

“Wulan ngarep mas.. Revisi skripsinya udah selesai kok..”

Aku tak pernah berani menggunakan bahasa jawa terlalu sering, takut salah. Malah jadinya gak sopan. Mas Bram adalah kakak laki-lakiku satu-satunya.

Bapak dan Ibu kami sampun sedho semenjak aku berusia 9 tahun. Sejak itu pula Mas Bram mengambil alih tugas untuk merawat dan membesarkanku.

“Yowis, Mas budhal kerjo dhisik, kuliah sing pinter lo yo..”

Begitu tukas Mas Bram. Aku mengangguk. Sudah menjadi tekadku untuk membuat Mas Bram bangga akan diriku. Aku belum menyebutkan padanya bahwa aku mendapatkan kemudahan untuk tidak membayar biaya wisuda karena IPK ku yang cumlaude. Belum lagi sudah ada perusahaan multi nasional yang meminangku selepas wisuda.

Aku berencana memberi tahu Mas Bram di tempat kerjanya di Stasiun Duri. Mas Bram bekerja sebagai staf di stasiun Duri, begitu katanya. Tapi, aku tak pernah diperbolehkan untuk menjenguknya atau sekedar mampir ke tempat kerjanya di stasiun Duri.

Siang ini, kubulatkan tekad untuk mampir ke stasiun Duri. Hanya butuh 9 stasiun terlewati untuk ke stasiun Duri dari stasiun Tangerang.

Kuhempaskan pantatku di salah satu kursi panjang warna biru benhur di dalam kereta. 1 stasiun terlewati, 2 stasiun, 5 stasiun, 6 stasiun. 3 stasiun sebelum Duri. Kudengar samar-samar suara pengamen sedang bernyanyi.

Oh coret, pengamen waria lebih tepatnya. Aku menenggelamkan mataku di buku Ian Fleming yang kubawa sebagai teman bacaan.

“Misi mbak, dengerin kita nyanyi yah..”

Suara 3 orang waria yang kemayu mulai terdengar bersenandung sambil memainkan ukulele.

Kupasang earphoneku, memilih lagu yang lebih enak didengar ketimbang ..

“Aku tak mau di kalau aku dimadu..”

Kurogoh kantongku dan menyodorkan selembar dua ribu perak yang lusuh.

Sembilan stasiun menuju stasiun Duri.

“Makasih mbak..”

Suara kemayu yang berbeda menjawab.

“Mas Bram?”

Selembar dua ribu perak jadi saksi mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: