Yang Manis-Manis Aja

“Gak suka cokelat!”

Begitu jawabmu tiap kali kusodorkan sebatang cokelat yang telah kupotong kecil dengan jemariku. Entah kenapa kamu tak suka.

“Kenapa gak suka?”

Pertanyaan yang kuutarakan selalu sama.

“Harus dijawab? Cokelat itu bikin eneg. ”

“Eneg kalo kamu makan terlalu banyak.”

“Pokoknya aku gak suka.”

Lalu kamu melepaskan genggaman tanganmu. Dan aku masih saja sibuk mengunyah cokelat wafer kinder bueno favoritku.

“Bahkan cokelat wafer juga gak mau nyoba?”

Kamu cuma melirikku sekilas.

“Retoris..”

Aku melanjutkan fokus pada batang cokelat waferku. Menelantarkan kamu.

“Ngediemin aku? Gitu?”

Spontan aku membuka bibirmu dan melesakkan secuil cokelat ke dalamnya. Kamu kaget.

“Rasain deh itu cokelat wafer kinder bueno, enak kan?”

Kamu terdiam. Mencoba merasakan cuilan cokelat yang kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutmu.

“Enak.. Banget..”

Aku terkekeh senang.

“Tuh kan, apa kubilang? Cokelat itu enak, dan cokelat wafer ini favoritku..”

Kamu terdiam lagi.

“Yang bikin enak bukan cokelatnya.”

“Lalu?”

“Kamu. Karena kamu yang memintaku dengan paksa. Yang menemaniku saat terpaksa makan cokelat.”

Gantian aku yang terdiam.

“Aku suka yang manis-manis aja, seperti kamu, misalnya..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: