Kopi Hitam

There should be us..

Bergandengan tangan. Turun hujan di bawah naungan payung warna biru terang. Menyebrang zebra cross lalu turun lewat eskalator di MRT Chinatown. Kopi hitamku belum kusesap sedikitpun. Dalam gelas tinggi berlogo warna hijau, mungkin ini kopi yang takkan mengingatkan aku padamu.

Kuikuti sepasang yang sedang bergandengan tangan menuju ramainya lalu lintas subway di Singapura. Gemuruh suara MRT yang datang mencegahku masuk dan berjubel dalam sesaknya MRT menuju City Hall.

“No drinks allowed inside the MRT, miss.”

Seorang petugas melarangku membawa gelas kopi hitamku. Disinilah aku, menunggu kamu menelponku. Di bangku warna coklat di trotoar sepanjang Orchard Road. Menyesap kopi hitamku yang terasa pahit.

Tak sabar.

“Kamu dimana? Kok gak telepon dari tadi?”

Samar-samar kudengarkan background suara di ujung telepon sana. Kulihat kamu berjalan ke arahku.

“Maaf sayang.. Tadi masih nunggu Atika tidur dulu.” Kamu mengecupku.

“Apa kabarnya Atika?”

“Gak usah nanya-nanya tentang Atika. Yang penting sekarang aku lagi sama kamu.”

Aku mengangguk kecil.

‘Kasian Atika. Kamu tinggal di rumah. Kasian istrimu itu.’

Ponselmu berdering. Dari Atika.

Kita masih bergenggaman tangan. Ponsel terabaikan. Atika pasti sedang hancur perlahan. Kopi hitamku semakin pahit saja rasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: