Samiler

Di suatu pagi dalam perjalanan menuju kantor, aku terkejut melihat kamu berdiri di pojok jalan. Duduk termenung dan bersimbah peluh. Memperhatikan jalanan yang ramai karena lalu lalang kendaraan bermotor.

Tak jarang, di lain hari aku menyaksikan raut wajahmu yang sumringah.

Lalu, di lain waktu, kamu tak pernah beranjak barang satu senti dari pojokan jalan itu.

Pernah suatu kali aku menyempatkan diri memperhatikanmu dengan besarnya tendensi.

Lalu, di sore hari kamu berganti lokasi. Bahkan, pernah hingga larut malam kamu tak kunjung pulang.

Aku penasaran.

Kuhentikan mobil yang disetiri sopirku. Tepat di depan kamu yang sedang mengipasi peluhmu.

“Meniko pinten pak sejinah?” Aku bertanya dalam bahasa Jawa yang agak halus.

“Tigang ndoso mawon, mbak. Tumbas pinten?”

“Kulo tumbas kalih ndoso nggih pak.”

Sebungkus, tiga ribu rupiah saja. Kubeli 20 bungkus. Kuangsurkan selembar seratus ribuan.

“Mboten gadhah arta alit?”

Aku menggeleng. “Buat bapak saja kembaliannya.”

“Matur sembah nuwun mbak. Mugi-mugi kathah rejekinipun.”

Aku tersenyum. Air mataku hendak jatuh.

Lalu, sehari, dua hari, tiga hari, kamu masih di tempat sama. Di pojokan jalan tempatku lewat sebelum menyentuh kantorku.

Aku berniat membeli lagi sepulang jam kantor.

Tapi…

Kamu tidak ada.

Bapak tua penjual samiler, dimanakah kamu sekarang berada?

Samilermu itu enak rasanya.

*samiler, kerupuk khas terbuat dari ketela*

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: