Mahar

~Laki-laki menuntun, perempuan itu menuntut~

It was another year after our break up.

Setahun yang aneh. Meski sudah putus, toh kita tetap bersama. Masih saling memberi kabar, mengirimkan pesan singkat, saling bergandengan, mencium kening, menelpon ibu masing-masing dan hal lain yang sederhana.

“Bi, kamu udah di rumah?”

“Udah, kamu dimana Bayu?”

Kami berdua tak pernah melewatkan malam tanpa saling menanyakan kabar.

“Tidur gih Biyan sayang. Biar besok gak telat ngantor. ”

“Kamu juga yah, Bayu. Cium yang banyak buat kamu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Bismika… ”
Dan Bayu akan melantunkan do’a sebelum tidur buatku. Selalu.

“Biyan, setiap penggalan do’aku adalah mahar buatmu.”

Aku tercekat.

Lalu, entah bagaimana berbulan-bulan kamu menghilang. Tak ada kabar.

***
“Nduk, Bayu dan orang tuanya nanti mau ke rumah. Mau ngelamar kamu katanya.”

“Bayu? Bayu-ku,bu?”

Ibu mengangguk. Aku bahagia bukan kepalang.

***
4 Juni. Tanggal pernikahan kita. Biyan dan Bayu.

Aku dengan balutan kebaya putih sederhana dan ekor gaun karena Bayu tak suka yang ribet. Dan Bayu akan ganteng dalam balutan kemeja dan dasi.

Jam 8.

Jam 9.

Jam 10.

Jam 12.

Bayu tak datang. Mahar darinya takkan pernah hilang.

Sepenggal do’a dari Bayu adalah mahar buatku.

*a spin off Bayu-Biyan*

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: