Tanggal muda

Have you checked your flight schedule?” Rinai, asistenku, menanyaiku entah buat yang keberapa kalinya.

For 3 times. Yes.”

“Yakin gak mau dianter ke bandara?”

Aku mengangguk. Yakin. “Naik taksi aja. Aku gak papa kok.”

“Kenapa perginya pas awal bulan gini sih mbak?”

“Supaya kalian gak sempet sedih. Kan abis gajian tuh, sindrom tanggal muda.”

Kami berdua tertawa. Lalu berpelukan erat.

“Nai, jagain toko brownies ini yah? Aku percaya kamu kok.”

“Mbak Manda cepet pulang juga yah. Jangan lama-lama di Parisnya. Lagian belajarnya jauh banget toh mbak? Di Jakarta kan juga ada.”

“Hush.. Belum juga berangkat,udah disuruh cepet pulang. Supaya toko kita juga makin oke.”

Taksi berwarna biru siap mengantarku. Kutengok kembali plat nama toko browniesku. “DOLCE”. Sampai jumpa, Rahendra.

*

Kulirik bungkusan coklat di meja kerjaku. Untuk: Rahendra

Amplop coklat yang cukup besar. Tapi anehnya, ringan. Kusobek ujung amplop. Dan isinya terlontar ke udara. Terjatuh sejauh 2 meter dekat jendela yang terbuka.

Sebuah kotak kecil beludu warna biru. Aku ingat kotak itu. Kotak berisikan sebuah cincin. Cincin bermata banyak buat Amanda. Ada tak jauh dari kotaknya. Kupungut. Kuteliti sekali lagi grafiran di dalam bagian dalamnya.

Rahendra’s by default

Kumainkan cincin Amanda di kelingkingku. Teringat kembali setiap kalimatku buatnya. Kalimat yang menyakiti Amanda hingga membuatnya tak lagi berjuang buatku.

I don’t love you. I just love the idea being with you, Amanda Bilka Diwangga.”

Aku terdiam setelah mengatakan itu.

“Kamu sadar kan dengan yang kamu omongin barusan? We’re getting married on first date of next month. Tanggal muda pilihan kamu. Tapi, liat yang kamu barusan…”

Amanda tak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia menangis tertahan. Aku mendekatinya. Merengkuhnya dalam pelukanku.

“Aku minta maaf. Aku kelepasan.”

Napas tersengal Amanda. “Fine. Then, let’s just break up. This time for real.”

Hening.

**

“Amanda itu punyanya Rahendra dari sononya.” Aku mengatakannya sambil menunjukkan cengiran khas di wajahku.

“Hidih.. By default gitu? Harus grafirannya tulisannya gitu?” Amanda protes.

“Harus. Kamu kan punyaku. For always.”

*

Membatalkan pernikahanku dengan Rahendra 3 bulan sebelum hari H memang mengejutkan banyak pihak. Tapi, itu lebih baik daripada melihat Amanda dan Rahendra saling merasa sakit. Rahendra lebih sering murung ketika tahu Amanda memilih pergi ke Osaka untuk kuliah. Dan Amanda, bukan orang yang mudah dipengaruhi. Dia tak mau pulang ke Jakarta bahkan untuk menemui Rahendra.

“Saya terima nikahnya Amanda Bilka Diwangga..

Aku tersenyum. Kulirik undangan yang kubawa.

Tertulis disana, ‘We’re getting married. Amanda & Rahendra’.

Amanda tersenyum dan berbicara sangat pelan padaku, “Makasih, Alika.”

2 Comments

    1. Aku besok kalo nikah, grafir cincinnya begitu juga ah…
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: