Serasa

“Kamu mau kan nikah? Sama aku?” Jantungku berdegup kencang.

Perempuan di sebelahku ini melepaskan headset yang sedari tadi memenuhi gendang telinganya dengan musik dari Duran Duran.

“Kamu bilang apa, Ndra?”

“Enggak. Gak bilang apa-apa kok. Salah denger kali.”

Diseruputnya lemon squash dengan penuh semangat. Samar-samar tercium napas lemon yang segar. Minuman kesukaannya. Perempuan di sebelahku ini memang sangat chic. Pintar, mandiri dan nyeni.

“Kelak, aku mau punya toko Brownies ah.” Ucap perempuanku ini.
“Kenapa toko brownies?”
“Supaya kamu bisa makan brownies original choco tiap hari, Ndra. Kan kamu afvorit tuh ama yang original choco. Heran deh.”

Aku tertawa. Amanda memang pintar memasak. Punya toko brownies, masih berupa impiannya, tipe wanita mandiri kesukaanku. Lalu, kebiasaanya menulis apapun yang terlintas di kepalanya, seni. Bila aku menikah dengannya, aku akan punya anak-anak yang persis seperti Amanda.

*

“Kamu mau nikah kan? Sama aku?”

Aku menanyai perempuan di sebelahku. Dia mencengkram kedua pipinya ketika aku memberikan sebentuk cincin bermata banyak. Dia tak bersuara.

“Mau kan?”

Dia mengangguk. Memelukku erat setelah mengenakan cincin itu.

**

“Would you marry me, Amanda Bilka?”

“You’re insane, Rahendra.” Amanda merapikan iPod yang tergeletak di meja.
“I’m serious. Marry me. It’s an order!” Kuletakkan sebuah cincin bermata banyak di atas meja. Jemari-jemari Amanda menyentuh cincin itu.

“Okay, I’m gonna think about it.”

Amanda meraih cincin di meja. Melihatnya. “Looks good on my ring finger, isn’t it?”
Sembari memperlihatkan jemarinya ke arahku.

“Kamu mau kan nikah? Sama aku?”

Jantungku berdegup kencang.

“I’ll marry you, Rahendra. Only, okay, only if you want to eat the original choco brownies that i will make in our future life.”

“Retorika, Amanda.”

Mencium bibir Amanda selalu ada sensasi yang berbeda. Rasa lemon dari lemon squashnya, manis bibirnya dari permen rasa strawberry dan mint dari rasa pasta giginya. Aku selalu suka. Amanda Bilka.

*

“Suka cincinnya?”

“Banget.”

“Ya udah kalo gitu. Aku pergi dulu yah, calon istriku, Alika Sudiro.Mau ngecek visa buat ke Seattle. Kamu udah siap kan ikut ke Seattle?”

Kukecup bibirnya sekilas. Biasa saja. Berbeda. Serasa mencium bibir boneka porselen. Dingin.

“Sayang, aku boleh kan pamer cincinku ke temen-temenku?”

Alika merajuk. Aku mengangguk.

Ini Alika. Bukan Amanda.

**

“Let’s just called it off,Man. We’re not gonna make it.”

“That’s it? Gini aja? Setelah kamu minta aku nikah sama aku? Lalu, putus? Cuma karena kamu gak mau kita jauhan sebentar aja? Cuma karena kamu gak mau nunggu aku nyusul kamu ke Seattle?”

Mataku perih. Hendak menangis. Pengecut. Aku mematahkan hati Amanda. Serasa duniaku runtuh melihat Amanda menangis.

***

“Sayang, barusan aku bilang ke Amanda kalo kamu melamarku. Dia kasih selamat buat kita berdua.” Celoteh Alika lewat telpon. Amanda. Amanda. Amanda.

“Nama temen kamu itu siapa sih, Al? Kenapa gak pernah kamu kenalin?”

“Manda gak mau ketemu kamu, beb. Gak tau tuh, tiap kali aku ajakin ketemu kamu, dia nolak. Banyak alasan gitu.”

“Gak mau ketemu aku, kenapa? Eh, siapa namanya? Amanda siapa?”

“Amanda Bilka Diwangga.”

4 Comments

    1. More than just complicated ..
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: