Satu sore kita

“Rumah ini gak akan lengkap tanpa kamu di dalamnya..”

Aku tersedak lime squash favoritku. Cipratannya mengenai layar Macbook-ku. Hidungku terasa perih. Campuran jeruk nipis, air soda dan bau menyengat batang serai makin menyakiti kerongkonganku. Aku terbatuk-batuk kecil.

Sore itu, hujan mengguyur kota Surabaya. Awal Januari yang basah. Dan di salah satu sore-sore kita bersama, kamu mengajakku duduk di kafe kesukaanmu.

“Kamu bilang apa?”

Aku bertanya padamu, lelaki dengan kacamata tanpa bingkai ini. Kuletakkan gelas tinggi besar dengan batang serai berukuran sangat maksimal di atas tatakan gelas berwarna biru tua.

“Eh, enggak. Itu aku lagi baca post di blog temen kamu itu. Manis banget tulisannya. Khas perempuan.”

Kamu memperlihatkan raut muka tak tertarik meski kamu bilang tulisan temanku itu manis.
“Idih.. Gak ikhlas gitu ngomongnya.”

Dan kamu terkekeh. Menumpahkan sedikit lemoh tea ke atas sweater warna coklat tua yang sedang kau kenakan.

“Coba deh kamu nulis sesuatu yang beda. Tentang realita. Science. Politik. Jangan melulu cecintaan.”

Berkata seperti itu kepadaku yang seorang penulis spesialis masalah hati.

‘Ergh.. Tersinggung deh.’

Aku cuma terdiam saja.

“Kok diem, neng?”

“Mau aku nulis tentang apa? Ada usul?”

Mencoba membesarkan hatiku sendiri.

“Gimana kalo rotasi bumi? Mau nulis buat aku?”

Lucu. Rotasi bumi?

Aku bahkan tak yakin kalau bumi berotasi bila kita berdua terus seperti ini.

“Bisa. Tunggu yah.”

Kusentuhkan tanganku pada layar 10.1 inch tablet milikmu. Kamu memutuskan untuk fokus pada tahu telor pesananmu.

“Udah selese belom sih? Lama bener.”

Protes.

Tahu telor pesananmu mendadak lenyap. Menu yang cukup aneh bila ada di daftar menu kafe. Toh, kamu lebih aneh karena selalu memesannya.

“Iya. Sabar.”

10 menit berlalu. Lime squashku pun kautandaskan.

“Udah.”

Kualihkan tablet ke pangkuanmu. Matamu berbinar. Senyummu mekar. Napasmu pun aroma jeruk nipis.

“Bukan Cinta yang membuat dunia berputar? Judulnya? Karena rotasi bumi kan inti ceritanya?”

Kamu bertanya. Tak yakin dengan judulnya.

Aku cuma mengangguk. Kamu tekun membaca ceritaku. Lalu, senyum kecil muncul saat kamu selesai membacanya.

“Lalu, apa yang membuat duniamu berputar?”

Pertanyaan retoris.

“Kamu.” Begitu jawabku.

“Duniaku berputar lebih cepat dengan kamu di dalamnya.”

Ciuman berikutnya, cuma aroma jeruk nipis tersamarkan bau serai yang mampir di hidungku. Aku ingat bau itu.

Sama persis hingga malam ini. Ketika dengkur halus kudengar dari kamu yang tidur nyenyak di peraduan kita.

4 Comments

    1. Emoh..

      No thriller ataupun horor.. Ogah.
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

    1. Makasih Fenty hehe..
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: