Gerimis mengundang

…/
Sesekali tanyalah mauku.

Aku mau kamu sesaat diam duduk di sampingku. Aku mau kamu memperhatikan aku dalam diammu. Bukannya berjalan ke sana kemari seperti sebuah setrika.

Sesekali kamu menanyaiku bukan pada waktu kita berdebat. Tanyailah aku ketika kita sedang kencan berdua.

Aku mau merebahkan punggungku di bangku taman. Kepalaku ada di pangkuanmu. Aku membaca buku, kamu mengelus pucuk kepalaku dan sesekali mencuri ciuman dariku. Bila aku ketiduran, jangan bangunkan aku dulu, sesekali saja.

Tak banyak mauku. Hanya ingin kamu diam mendengarkan ceritaku.

Rasanya sih sulit kudapatkan darimu.

Aku sabar kok.

Dari musim kemarau pertama kali berkenalan hingga musim hujan datang.

Dan aku tetap sabar menunggu. Hingga kamu bisa duduk tenang di sampingku.

Bahkan seharian ini kamu tak ada kabar. Mulai pagi cerah, angin bertiup kencang, awan menghitam dan gerimis pun datang.

Menunggu kamu diam bisa bikin gerimis datang.

…/

‘Ah.. Bukan begini seharusnya..’

Agni ngomel dalam hati. Ditekannya tombol backspace berulang kali. Dia tak bisa konsentrasi.

Deadline dari editor hendak mencekik lehernya. Dan Raya, suaminya, bermanja-manja di sampingnya. Tak bisa diam. Merengek minta dibuatkan scrambled egg dan susu coklat panas.

“Yang.. Sabar dikit dong. Diem. Tenang dulu…”

Agni terus memohon. Raya tetap merengek demi scrambled egg.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: