Menolak lupa

“Tadi gimana di kantor, nduk?”

Suara Ibu memecah keheningan makan malam keluarga kami. Aku meletakkan sendok garpuku. Menarik napas tenang.

“Baik bu. Kerjaan saya baik.”

Lalu, hening lagi.

Hanya ada adu bunyi sendok garpu dan piring kami berdua. Tak ada bapak. Selalu cuma berdua saja. Bapak selalu sibuk kerja. Sibuk keluar kota. Sibuk ketemu klien. Ada janji sama menteri. Atau klien yang lain. Aku bosan dengan alasan-alasan yang diberikan bapak.

“Kamu kok ndak pacaran lagi to nduk? Kenopo?”

Aku terdiam. Ibu melanjutkan nasehatnya.

“Golek bojo kuwi koyok bapak. Iman. Mapan. Tur tampan. Ganteng. Koyok kuwi lho sopo kuwi koncomu, Raihan.”

Aku membatin. Miris. Betapa aku masih ingat. Perselingkuhan yang dilakukan bapak. Banyak. Bahkan beberapa dari perselingkuhan itu sempat terbongkar oleh ibu. Tetap saja ibu bersikukuh, bapak gak salah. Tapi, aku menolak lupa. Aku tak mau jadi seperti Ibu. Wanita yang nrimo terus.

“Nduk, kok ngelamun? Ibu tanya Raihan piye? Ibu tresno lho kalo kamu sama Raihan.”

Ah, Ibu. Mana ibu tahu. Raihan sudah ada yang punya. Sudah beranak dua pula.

Uh, aku menolak diperlakukan seperti ibu. Aku menolak lupa bagaimana bapak selingkuh dan ibu bersikeras jadi pihak yang salah.

Ogah ah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: