Cuma teman

Di perjalanan pulang dari kantor, aku menangis tertahan dalam pengapnya helm hitam. Menyetir motorku perlahan karena jalanan berubah menjadi bayang-bayang.

Tiba-tiba turun hujan. Aku basah kuyup dari jarak 200 meter sebelum mencapai pintu pagar. Padahal tadi langit terang. Seharian tidak memperlihatkan tanda akan turun hujan. Jadi, hujannya dadakan.

Kuhapus air mataku dengan lengan jaket yang kedodoran. Tak tega rasanya berkeluh kesah pada Ibu yang wajahnya sudah kuyu kelelahan.

“Aku pulang.”

“Cuci tangan. Makan. Mandi. Lalu istirahat. Sholat sekalian.”

Aku mengangguk. Kusantap menu makan malamku dalam diam. Mandi. Sholat.

Kututup pintu pelan-pelan. Jam 8 malam. Teringat akan secuplik perkataan dari bibirmu.

“Kita masih bisa berteman.”

Teman. Cuma teman. Gampang.

Kuhempaskan badan di atas peraduan. Menangis dalam gelapnya kamar dengan muka ditutup bantal. Takut isak tangisku terdengar.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: