Bubur : mulailah dengan yang lembut-lembut

Alarm ponselku sudah berteriak nyaring setengah jam yang lalu. Aku masih saja bergumul dengan kekasihku, si guling unyu. Kutendandang selimutku ke sudut ruangan. Berjalan menuju kamar mandi menyeret beban hidup yang tak kunjung padam.

Aku ingin mengeluh saja seharian. Sedang merasa kesakitan tapi belum menemukan obat penawar.

Setengah jam kemudian, aku tetap saja tak tenang. Resah dan tak merasa nyaman. Kukenakan rok jins dan kaos polo motif belang. Entahlah. Entahlah. Aku bingung dengan yang kurasakan.

Jelas, aku kesakitan. Mengingat perkataan semalam.

“Jangan main kasar, pelan-pelan. Lembut. Mulai dengan yang lembut dulu.”

Enak dia bilang. Yang lembut-lembut dulu. Dia kan gak ikut ngerasain. Aku menggerutu.

Sudah jam tujuh. Tak ada kabar. Aku duduk di bangku taman. Menunggu seseorang. Ini masalah kecocokan. Aku memang tak bisa ke lain tempat. Berhubungan dengan yang baru. Tak bisa begitu saja kan? Tak semudah itu berubah pikiran. Ini selera.

Ting. Ting. Ting.

Dia datang. Aku berlari membuka pintu pagar.

“Bang!”

Dimundurkannya gerobak kayu warna coklat terang.

“Si abang euy, lama bener. Udah jam 7 gak lewat-lewat.” Aku protes terang-terangan.

“Maaf, neng. Banyak pelanggan.”

“Ya udah. Bubur ayam seporsi yak?”

Aku mulai memesan. Berpikir pula buat makan siang.

“Pake kacang gak neng?” Terdiam. Berpikir keras. Mencoba mengingat kata-kata bu dokter semalam.

Gak boleh makan yang keras-keras. Makan bubur aja dulu. Kacang-kacangan juga gak boleh. Titah bu dokter gak boleh dilanggar.

“Gak pake kacang bang. Ayamnya dipotong kecil-kecil yah. Ehm, sekalian deh bikin 3 porsi.”

Si abang penjual bubur ayam bingung. Tapi tetap saja dibuatkan pesanan bubur ayamku ini.

“Tumben, gak mau kacang neng? Diliat-liat, si eneng kok beda yah kayaknya?” Si abang bertanya. Lalu, melihat ke arah wajahku dengan pandangan menyelidik.
“Absen dulu makan kacang bang. Makasih yah.”

Kusambar bungkusan bubur ayam. Melesat masuk ke dalam kamar.

Mengambil tempat di depan cermin di dalam. Mengaca. Tersenyum. Melihat ke arah gigi-gigi baru.

“Ah, mau cantik kok mahal bener sih, susah, nyiksa pula.” Kuhembuskan napas berat.

Kembali bu dokter terdengar di pikiran.

“Inget yah? Kalo pake kawat gigi, gak boleh makan sembarangan. Rajin sikat gigi. Makan bubur aja. Kalo sariawan, olesi pake obat yang tadi.”

Aku terdiam. Kembali tersenyum di depan kaca. Gigi geligiku sedang dipenjara dalam balutan behel dengan wire warna hijau terang. Dan aku harus menunggu selama 3 tahun ke depan demi kecantikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: