Bapak insinyur dan ibu penulis

Seorang wanita tampak belakang berambut coklat brunette mengenakan gaun pengantin dan anting manis bermata berlian. Tampak belakang, tapi aku yakin dia sedang tersenyum senang. Aku sedang menyelesaikan gambar itu di tablet pintar kepunyaanku. Sebuah desain yang bisa membuat siapapun ikut tersenyum bahagia.

Stasiun Tugu dan ini pukul satu. Sancaka akan siap jam empat sore nanti. Ini caraku membunuh sepi.

Kemarin, aku berpamitan pada Firah yang pergi menuju kotanya terlebih dulu, Bandung. Kotamu juga.
Stasiun Tugu pada jam seperti ini selalu lengang. Tak banyak orang berlalu lalang. Hanya beberapa penjual salak pondoh.

Kusandarkan punggungku perlahan. Menutup mataku. Menghirup udara sekitar. Mencoba tenang. Bertahan untuk tidak mengingat kamu barang sebentar.

Kita yang dulu ada. Kita.

Pasangan manis itu ada. Muncul tiba-tiba. Si tampan berkaos biru dan si manis dengan senyum lucu. Mereka yang kulihat dua hari lalu di coffeeshop bersama Firah.

Kereta Prameks tujuan Solo. Hatiku menggelitik. Entah kenapa aku begitu penasaran dengan pasangan manis ini.

Sadar, aku berada tak jauh dari pasangan manis itu. Bapak Insinyur dan Ibu penulis. Sekilas, aku tahu apa yang mereka berdua sedang kerjakan. Manis. Lucu. Ciuman kecil di pelipis. Senyum tipis di raut muka keduanya. Pelukan erat dari sang pria. Di dalam kereta Prameks menuju Solo. Apa kabar dengan Sancaka-ku? Aku tak peduli.

Melihat mereka seperti mengingatkanku pada kita. Desain masa depan kita berdua.

***

Jam 11 malam waktu Surabaya. Dan aku terdampar di depan pagar tempat tinggalmu. Entah mau apa aku.

Aku ingin berterima kasih pada pasangan manis di kereta Prameks sore tadi.

Sebelum imajinasiku berlari, aku turun di stasiun Maguwo. Melewati tempat duduk bapak insinyur dan ibu penulis.

“Untuk kalian. Semoga keberuntungan selalu menyertai di masa depan.” Kuangsurkan rangkaian bebatuan yang aku dapatkan dari perjalananku ke Yunani tahun lalu. Lambang keberuntungan. Mereka kaget.

“Terima kasih.” Si perempuan yang menerima. Kutinggalkan mereka yang masih tak mengerti dengan kelakuan absurdku. Segera saja aku berada di ruang tunggu bandara Adi Sucipto. Memesan penerbangan pulang terakhir ke Surabaya.

***

Ponselmu tak kamu angkat. Ini jalan terakhir.

Kupencet bel. Si mbok baik hati membukakan pagarnya. Selangkah demi selangkah, kuarahkan kakiku menuju kamarmu.

Kutemukan kamu sudah bergelung dalam selimut. Suhu ruangan seperti musim dingin di bulan Desember. Aku duduk di samping tempat tidurmu. Menunggu kamu bangun. Ingin menunjukkan sesuatu.

Sebuah gambaran. Desain masa depan kamu dan aku. Sketsa pasangan manis di KA Prameks tadi sore. Bapak Insinyur dan Ibu penulis, mengingatkan aku akan kita yang dulu.

Maukah kamu melihat sketsaku?
Aku menunggu. Di samping tempat tidurmu.

9 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: