Sah!

“Harusnya kita tiap hari kayak gini yah?”

Genggaman tangan makin erat.

“Lalu, mau apa?”

“Pegangan tangan. Manja-manja. Bicara masa depan. Diskusi banyak hal.”

Tawa kita di udara. Rasi bintang Vega tampak di kelamnya langit.

“Ini kan udah? Pegangan tangan. Cerita-cerita tanpa ada jeda. Apalagi coba?”

“Kurang ah. Aku mau kamu lebih. Bisa?”

Kelopak mataku bergetar. Berkaca-kaca. Tak percaya dengan pendengaranku.

“Kamu maunya gimana emang kalo segini aja kurang?”

“Aku maunya kita sah saja.”

Terkesima. Hampir sesak napas. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

“Menikahlah denganku. Maukah kamu?”

Aku menangis. Hampir saja. Cuma hampir saja.

CUT!!

“Oke, break 15 menit. Blocking kamera pindah. Anya, akting kamu jempolan!”

Si sutradara memberikan senyum pujian. Si dia yang tadi melamarku pun bangga padaku.

Iya, ini bukan mimpi. Ini nyata. Eh, nyata cuma saja akting belaka. Aku cuma lakon biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: