Tentangmu yang [juga] selalu manis

Sebelum senja muncul, kita sedang bertukar cerita di rooftop. Berdua saja, seperti biasa. Bau udara bercampur dengan basah yang akan berubah menjadi hujan. Sepasang telapak tangan kita saling menggenggam, sepasang lainnya berkencan dengan segelas besar teh tarik kesukaanku. Kehangatan yang menjalar di sepanjang lengan.

“Aku punya cara beda buat memproyeksikan romantisku ke kamu.”

Kuletakkan gelas teh tarik-ku di meja. Tandas.

“Mungkin tidak akan se-romantis Tom dan Summer. Lebih penting karena ini adalah caraku membuktikan kalau aku peduli padamu.”

Ketahuilah, aku memberitahukan ini semua karena tak ingin kamu protes. Tak ingin kamu sedih. Bahwa aku tak bisa romantis. Dan kulihat pupil matamu yang kecoklatan membesar.

Lalu, kamu memalingkan wajahmu. Bersama kita hening seketika. Masih saja saling bergenggam tangan. Menatap langit yang akan segera meniupkan hujan.

“Aku sayang kamu, cukup romantiskah itu buatmu?”

Butuh lebih dari sekedar kalimat itu, aku tahu. Toh, kamu pun akhirnya menatapku. Dan lirih, kudengar permintaan maaf terlontar dari bibirmu. Kamu lucu. Mengapa meminta maaf?

Mencuri sebuah ciuman dari bibir tipismu. Romantis?

“Bibirmu manis. Aku sayang kamu. Itu lebih dari cukup buatmu?”

Dan rintik hujan mulai berjatuhan. Cemburu melihat kita yang belum usai berbagi kisah lewat banyak ciuman.

Melihatmu, ada semburat ketakutan padaku. Adakah jaminan bahwa kamu akan tetap sayang?

*an answer to Aditia Yudis’ Tentangmu yang selalu manis.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: