Kamu yang dulu tak pernah ada

Ah.. Baru sekali ini aku melihatmu duduk di situ. Padahal, tiap hari aku selalu datang kemari. Dengan balutan kaos warna biru, kulihat kamu ada di depan mataku. Kamu termenung.

Kamu, dulu tak pernah ada.

Baru malam ini aku melihatmu. Atau aku yang selama ini tak peka.

Kamu, tiba-tiba ada.

***
Malam kedua, dan kamu ada di situ. Berada di balik kaca restoran tempatku bekerja. Kali ini, kamu mengenakan kaos warna abu-abu dan celana kusut yang panjangnya sedengkul.

Ada koran-koran terpanggul di pinggang.

Kenapa kamu baru muncul sekarang?

“Mel, kamu ngeliatin apa? Udah jam restoran tutup, ayo sana pulang.”

Renata, salah satu stafku menegur aku yang sedang terpana melihatmu. Eh, setelah itu kamu menghilang.

***
Malam ketiga hingga malam keenam, kamu tak kelihatan tampaknya. Kuperhatikan saja kaca restoran. Bolak-balik kuperhatikan jalanan.

Besok restoran akan buka hingga tengah malam, aku berencana menunggumu hingga kamu datang.

***
Benar saja, di malam ketujuh kamu datang. Kali ini, pakaianmu tampak lebih kumal dari biasanya.

Dan kamu masih saja memperhatikan bagian dalam restoran. Bagian dimana para chef restoran sedang sibuk menata makanan yang siap dihidangkan.

Kamu menatap mereka dengan penuh kekaguman. Binar cerah di matamu mengingatkanku bahwa kamu dulu tak pernah ada.

Cepat-cepat kuhampiri kamu.

“Hai adik kecil, kamu gak capek berdiri disitu terus?”

Kamu nampak malu.

“Maaf mbak. Saya ganggu yah.”

“Kamu mau masuk ke dalam? Ayo temani mbak makan.”

Matamu menampakkan cahaya indah.

“Gak usah mbak. Saya cuma mau lihat mas-mas di dalam sana masak. Saya mau ah jadi seperti mereka.”

Berkaca-kaca.

“Kamu sekolah? Kelas berapa?” Kupandangi koran-koran yang dipegangnya erat di tangan kanan.

Jari-jarimu menunjukkan jumlah lima. Kamu masih terlalu kecil buat bekerja sendirian dan menanggung beban hidup untuk masa depanmu yang terbentang.

“Ayo masuk ke dalam. Makan sama mbak.”

Lagi-lagi, kamu menolak. Kamu bilang ibumu sedang sakit keras.

“Siapa namamu, adik kecil?”

“Hamizzan, mbak. Saya suka memperhatikan mbak yang baru keluar dari restoran tengah malam.”

***
Kugamit lengan Hamizzan masuk ke dalam restoran.

“Kamu boleh kerja di sini, Zan.”

“Sungguh, mbak?” Kamu nampak tak percaya. Kamu yang dulu masih kelas lima sekarang sudah duduk di bangku SMA.

“Iya. Buat ibumu bangga yah? Jadilah chef seperti cita-citamu waktu kecil dulu.”

Kamu memelukku. Adik angkatku, Hamizzan. Kamu yang dulu tak ada, lalu muncul tiba-tiba di balik kaca dan sekarang menjadi bagian suatu masa.

“Mbak, boleh saya belajar sama mas Adjie?”

Kulihat Adjie mengedip padaku dengan seragam chefnya. Adjie, suami yang aku temukan karena kamu.

“Pernah mbak nolak permintaan kamu, Zan?”

Kamu, adikku sayang, tersenyum riang.
Terima kasih, Tuhan atas mereka yang sekarang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: