Denting terakhir

Tangisku kembali pecah semalam. Tangis yang kutahan sejak pagi datang. Siapalagi penyebabnya kalau bukan kamu. Egois memang menjadikan kamu sebagai alasan. Dasar dari semua hal tak benar yang telah kulakukan.

Semuanya jadi pecah berantakan. Berserakan. Dan kamu akan selalu kujadikan sasaran. Itu salahmu sendiri.

Kamu sudah kusayangi sepenuh hati. Tapi tetap saja menyakiti. Kamu sudah kumengerti tapi kamu sendiri tak mau tahu isi hatiku. Kamu sudah kuperjuangkan tapi kamu membuat seribu macam alasan.

Kok bisa sih kamu begitu?

Gara-gara kamu, semalam aku mendengarkan denting terakhir yang indah. Sebelum kamu datang dan serta merta menghancurkan. Takkan ada lagi denting yang bisa didengar.

Kamu nakal. Aku menghardik. Kamu cuma bisa mengeong pelan.

Ibu datang.

“Ngapain kok marah ama si belang, nduk?”

Si belang kembali mengeong pelan.

Ah, toh kotak musik kesayangan pemberian ayah tak bisa diselamatkan. Tak ada lagi denting lagu sumbang.

Si belang menatapku nanar seolah berkata, “Sayangilah aku, nona.”

Mengeonglah, belang.

4 Comments

    1. Haha.. Makanya kan dia mengeong aja terus XD

      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

    1. Hehe.. Cewek2 manis biasanya kan emang penyayang.
      Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: