Sampai kapan

Rok selututku begitu lucu dan berlipit tujuh. Aku memasangkannya dengan kemeja putih bermotif cantik. Jam di tangan sudah menunjukkan angka 2 dan kamu tak kunjung datang. Kugoyang-goyangkan saja tas punggung warna hijau terang.

Aku setia. Duduk manis di bawah rindangnya pohon pinus. Sudah sejam lebih sepuluh menit dan kamu tak ada kabar. Ah, lalu aku harus menunggu dulu kedatanganmu. Aku sedih. Jangan-jangan kamu lupa untuk menemuiku.

Aku janji takkan beranjak dulu. Kata Ibu tak boleh pergi dulu. Tetap menunggu meski terik matahari tak malu-malu. Bangku kayu di bawah pohon pinus sudah lelah kududuki. Kakiku menuntut untuk digerakkan. Aku berjalan mengelilingi pohon pinus.

Duduk selonjor dengan nyaman. Memangku tas punggung berwarna lucu. Masih saja tak ada tanda-tandamu.

Ah, kemana kamu?
Nanti, aku akan dicari.
Sampai kapan aku duduk sendiri? Apakah sesuatu terjadi?

Ibu sudah menelpon berkali-kali. Bertanya mengapa aku masih tinggal di depan sekolah, menyendiri di bawah pohon pinus.

Duh, Pak Mamat, sampai kapan aku harus menunggu kamu datang menjemputku?

Perutku sudah berbunyi sejak jam dua tadi.

Pak Mamat, kemana engkau mengarahkan kemudi becakmu?

*terinspirasi dari rok lipit lucu warna khaki kesayangan saya kesukaan kamu*

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: