Januari biru

13 Januari 2013
Sedang apa kamu?

Bulan Desembermu sudah berlalu. Tahun pun berganti baru. Ini Januari-ku.
Apakah kita sedang menatap langit biru yang sama?

Yang jelas, tanpamu langitku tak lagi biru. Cuma ada warna kelabu. Abu-abu. Kilau mentari pun tak secerah dulu. Tanpa kamu, semuanya jadi pilu.

“Najendra, ngelamun terus ih!”

Sofia menowelku di bahu. Aku tersenyum. Malu karena ada yang tahu aku sedang memikirkanmu. Sebentar lagi musim semi datang. Musim semi pertamaku dan kamu tak ada di sini. Sayang sekali. Bahkan Moscow terlalu dingin untuk ukuran musim dingin.

“Kenapa ngelamun?” Sofia, teman sekamarku di Moscow.
“Memikirkan seseorang.” Aku menunduk. Memandang key chain yang kauberikan padaku dulu.
“Ah, telepon saja kalau rindu. Kirim email. Skype. Ini kan jaman canggih. Jangan susah gitu dong!” Kalimat Sofia menohokku pelan.

Memangnya bisa aku mendengar suaramu? Atau membaca kiriman email darimu? Dua kali Desember aku menguatkan diri. Berhenti menangisi perpisahan kita. Dan aku tahu, sekalinya aku mendengar suaramu atau apapun itu, akan meruntuhkan kembali pertahananku. Banyak hal di Moscow yang mengingatkanku akan kamu. Segelas teh panas. Sebuah iPad layar sentuh. Coat tebal berwarna merah terang. Rokok dan cerutu yang dihisap dalam-dalam. Buku-buku panduan belajar tehknik. Ada kamu di semua hal itu.

Menakutkan. Kamu menghantuiku.

Tak banyak yang bisa kuingat darimu. Hanya sisa-sisa serpihan pemberianmu. Keychain bentuk hati berwarna emas. Mug jumbo biru bertuliskan ‘KISS’. Kaos abu-abu pudar yang kamu benci. Sepatu wedges gading favoritku.

Apalagi? Apalagi yang kuingat dari kisah kita?

Kenangan, mungkin. Yang tiap kali kubuka sedikit, maka ada luapan air mata berderai tak berhenti.
Tanganku membuka domain website akun surelku. Akun yang sudah lama tak tersentuh karena aku yakin banyak email darimu. Akun yang kamu pun tahu username dan password yang kugunakan untuk membukanya.

Klik. Klik. Log in.
Username. Password. Match.

Welcome back, Najendra.

You have 0 email. You have 13 email drafts.

Hening. Dua Desember berlalu, kamu tak mencariku. Tak ada balasan apapun.

Drafts. Klik.
Aku terkesiap. 13 email drafts yang aku tak pernah merasa menuliskannya. Tertanggal setahun yang lalu. Kamu kah itu, Ikram?

13 Januari 2012

“Najendra gak ada kabarnya, Bu. dia hilang. Pergi. Bahkan orang rumahnya tak ada yang tahu.” Aku mengeluh pada Ibu lewat telepon.

“Tapi, aku belum menyerah. Najendra pasti kembali. Iya kan Bu?”

Aku membuka kembali kotak email Najendra.

Klik. Klik. Log In.
Username : najendra.izza@power.net
Password : IkramHamizan

Akun email yang aku tahu semua detailnya. Pasti aku bisa mencarinya di sini.

You have 1 email.

To : najendra.izza@power.net
From : najendralagi@power.com
Subject : Januari biru

Sayang,

apa kabar?

aku rindu. sangat rindu.

Tapi aku tahu, kamu takkan mau membalas rinduku. Iya kan?

Sayang selalu,
Najendra

Reply? Yes.

To : najendralagi@power.com
From : najendra.izza@power.net
Subject : re: Januari biru

Menikahlah denganku. Mau?
Dimana kamu?

Send? No. Draft.

15 Comments

    1. oke, udah baca. itu, itu, mo nanya dulu. typo atau bukan?
      “Berhenti menangis perpisahan kita.”
      maksudnya bukan ‘menangisi’ kah?

      baca ini ikutan dingin. moscow dingin ya?

    2. oh, jejeran sih ya, moscow sama sby? Moscow-Sby berapa naik becak?

      pengumuman: sy sedang bawel bumbu sangat hari ini. tp biar dikira cool sy ga bawel2 lagi deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: