[FF] Sepupu-an

Sabtu sore..

Kurapikan mascara coklatku, sambil sesekali melirik smart phoneku. Belum berkedip.

Kuangkat badanku berjalan menuju lemari sepatu. Memilih padanan yang cocok dengan setelan animal printed yang aku pakai. Antara kitty heels hitam atau sepatu flat abu-abu. Huhm!

Tak lama Smartphone bergetar. Yap! Kamu sudah diluar. Buru-buru kusambar sepatu flat berwarna kelabu dan keluar kamar menuju pintu.

Hari ini kita akan berencana membeli sepasang cincin.

Perhiasan sakral yang boleh jadi jika dibeli sepasang adalah simbol suatu ikatan. Semalam aku sudah mencari model cincin yang aku suka. Beberapa bertahta permata bahkan berlian.

Tapi, aku tahu kamu pasti tidak suka. Maka, aku mencoba mencari yang lebih sederhana. Supaya tetap berada dijarimu setiap harinya. Dan kutunjukkan padamu sebelumnya.

Toko pertama di sebuiah Mall tengah kota. Dindingnya berwarna putih gading, terkesan classic dan exclusive. Senyum ramah pramuniaga menularkan energi yang sama.

Kubalas senyumannya, sembari menuju bangku kosong. Kuperhatikan beberapa pengunjung lain. Mereka datang berpasangan. Mereka bergandengan tangan dan saling berdekatan. Bermaksud mencari hal yang sama sepertinya. Kemudian aku berdiri. Menghampirimu yang sudah mulai berkeliling di etalase toko, sedikit merajuk agar terlihat sama seperti mereka. Seperti orang pacaran.

Akhirnya kita memilih etalase sebelah kanan, yang memang pojok khusus untuk cincin perpasangan.

Lantas kamu memberikan beberapa pilihan model untuk kucoba. Tak lama kamu putus asa, karena tidak ada satupun cincin itu yang muat dijari kananku.

Aku tahu kamu kecewa. Lalu, kuumbar senyumku dan berbisik ke telinga kirimu. Kaupun menganguk setuju. Kita putuskan untuk naik satu lantai lagi ke toko berikutnya.

Saat itu aku lupa bahwa kamu tidak suka digandeng di keramaian. Menurutmu terlalu berlebihan. Dan kau menyingkirkan gelayut manjaku di lengan kirimu. Perlahan.

Kemudian, di toko ini, semua serba kelabu. Dan lebih besar. Menampilkan kesan mewah dan elegan. Kamu menginginkan yang kamu cari.

Tanpa basa-basi kita kita memilih pojok kiri. Beberapa pilihan kembali kau sodorkan dan jari kananku masih belum menemukan yang paling baik.

Sampai pada pilihan kelima. Akhirnya.

Modelnya simple ada tiga garis menyerong pada tengah cincin dan diberi sedikit pemanis pada ujungnya. Tiga batu permata kecil menghiasi cincin si perempuan. Kamu tersenyum bahagia. Mengetahui bahwa ukuran untuk si pria juga pas di jari kananmu. Cincin itu akan terpasang di hari Sabtu bulan depan, saat hari pertunangan.

Cincin itu bagus. Seakan tidak ingin aku lepas. Aku suka kerlingan cahaya permatanya. Kedipnya indah.
Berkali-kali kau tanya pendapatku.

Dengan sumringah aku jawab, “Ya! Aku suka.”

Tak lama kartu kredit kau berikan,pertanyaan pun terlontar.

“Grafirnya nama untuk cincin perempuan, Firman ya?”
“Iya.”
“Untuk cincin laki-lakinya?”
“Putri.”

Kuangkat wajahku. Jantungku berdebar tidak beraturan.

“Ivon,dilepas cincinnya. Sebelum pulang, kita makan dulu.”

Kuatur nafasku, kupasang senyum palsu. Kadang selingkuhan pun harus rela menjadi sepupuan.

*written by Frida Ivon, a good friend of mine.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: