Bukik Bertanya : Cinderella tanpa sepatu kaca

Tentang Saya

I was nobody.

Cuma perempuan biasa. Nama saya terbilang unik. Saya terlahir sebagai Wangi Mutiara Susilo. Ada cerita di balik pemberian nama itu. Konon, ketika Ibu sedang mengandung saya, beliau tidak mau memakai wewangian macam apapun. Ketakutan kalo jabang bayi ini nantinya tak suka pakai parfum, maka Ayah memberikan nama saya “Wangi” ketika saya lahir. Nama tengah saya sendiri memiliki dua arti. Mutiara sebagai perhiasan yang melambangkan keeleganan seorang wanita dan juga menyiratkan betapa susahnya mencari perhiasan ini.

Mungkin Ayah ingin anaknya ini terlahir menjadi seseorang yang berbeda. Nama belakang saya adalah nama keluarga Ayah. Beliau percaya bahwa perempuan pun nantinya boleh menurukan nama keluarga pada anak-anaknya.

Menginjak usia mahasiswa, sorang sahabat baik saya mulai akrab memanggil saya ‘Unge’. Panggilan kecil dari ‘Bunga’. Kata Sahabat saya itu, Wangi selalu erat dengan Bunga. Hingga sekarang, saya lebih dikenal sebagai Unge, walaupun teman-teman masa bangku sekolah lebih akrab memanggil saya sebagai seorang Wangi.

Tentang Saya dan Keluarga

Dilahirkan sebagai putri tunggal, banyak yang mengira saya adalah anak super manja, the spoiled little brats. Well, salah besar. Ayah dan Ibu mengajarkan saya untuk menjadi orang yang mandiri. Kedua orang tua saya adalah pekerja keras, seringkali saya ditinggal hingga larut malam karena pekerjaan mereka. Biasanya saya sering berdebat dengan Ibu, saya tidak mau kalah, Ibu sebagai orang tua adalah yang benar. Tapi tak apa, karena semuanya berakhir baik.

Apa yang tabu boleh dibicarakan, apa yang pribadi boleh ditanyakan, apa yang rahasia boleh tetap menjadi rahasia. Bahkan ada peraturan tak tertulis bahwa Ayah Ibu tidak diperbolehkan masuk kamar saya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Lalu, ada abang -Anak angkat- yang saya anggap seperti kakak saya sendiri. Ketika abang datang, saya merasa iri. Ayah dan Ibu lebih memperhatikan abang ketimbang saya. Saya jadi merasa seperti Cinderella lengkap dengan saudara angkat tapi tanpa sepatu kaca.

Saya bukan tipe orang yang mudah menyerah. Saya ambisius. Bila saya jatuh, maka saya mempersilakan diri saya buat menangis. Lalu, bangkit lagi dan lagi. Jatuh, bangkit lagi. Jatuh, berdiri lagi.

Saya suka tantangan dan selalu mencoba hal baru. Saya melakukan hal-hal yang saya suka. Membaca, menulis, mengajar bahasa Inggris, berlatih Jujitsu hingga memar dan lecet, apapun yang membuat saya merasa tertantang.

Tentang hal-hal yang mengubah hidup saya

Abang -kakak angkat- yang membuat saya belajar bahwa ada banyak hal di dunia saya yang harus rela dibagikan, orang tua misalnya. Teman-teman baru yang mengubah cara saya berkomunikasi. Saya yang termasuk pendiam tiba-tiba bisa kehilangan jati diri dan bawel tak karuan bila sudah bertemu teman-teman.

Menulis banyak membantu saya dalam banyak hal. Saya yang tak begitu suka menceritakan rahasia saya biasanya lebih nyaman membagikannya dalam bentuk tulisan. Saya seorang penulis untuk hobi yang tak sempat tersalurkan.

Orang-orang yang pernah dan [mungkin] masih membenci saya, mereka punya andil begitu besar dalam mengubah cara pandang saya. Saya jadi lebih baik dalam berpikir. Mampu menghargai orang lain. Dan sanggup mendengarkan sindiran-sindiran tak tersirat.

Teman-teman masa kecil yang dulu kerap memanggil saya ‘Cino gak dadi’ [Cina tapi gak jadi]. Sedikit rasis memang, melihat darah Banjar-Cina-Jawa yang mengalir di tubuh saya. Dulu, saya akan pulang sambil menangis karena diejek dengan sebutan itu. Sekarang, saya malah lebih sering dipanggil dengan sebutan ‘Cece’ atau ‘Meme’. Tapi berkat mereka, saya belajar bahwa perbedan seharusnya dihargai bukan dicela habis-habisan.

Murid-murid saya yang sering memanggil “Miss Wangi, Miss Wangi, can i hug you?” Saya sering tersentuh dengan kalimat yang mereka lontarkan. Dari mereka, saya tahu bahwa pekerjaan sebagai guru memang sungguh membanggakan. Bertahun-tahun tak bertemu, mereka tetap mengingat saya. Membagikan ilmu yang mereka dapat dari saya. Saya yang dulu merasa aneh ketika pertama kali merasa tersesat bekerja menjadi seorang guru, sekarang justru sangat menyesal karena berpikiran seperti itu. Kalau boleh, saya ingin kembali mengajar. Memberikan ilmu saya, supaya menjadi hal yang lebih bermanfaat.

Saya menghargai … karena …

Diri sendiri, karena mandiri, tangguh dan selalu mau belajar hal baru. Ibu selalu bilang bahwa saya terkadang tak bisa duduk tenang, semua hal ingin dilakukan.

Keluarga, karena mengingatkan saya akan menjadi siapa saya di masa depan nanti.

Orang lain, dari mereka saya belajar untuk mencintai dan menghormati diri sendiri. Kalau kita tidak bisa, bagaimana mungkin kita bisa mencintai dan menghormati orang lain?

Negara saya, Indonesia. Begitu bangganya saya dilahirkan sebagai seorang Indonesia. Meski saya bercita-cita untuk melanjutkan belajar di luar negeri, namun saya ingin kembali kemari dan membagikan apa yang sudah saya dapatkan hingga negeri ini bisa lebih baik lagi.

Kehidupan, saya tidak tahu akan berapa lama berada di dunia ini. Yang jelas, saya ingin memanfaatkan setiap detik yang saya punya untuk membuat kehidupan saya di masa depan bisa bermanfaat buat orang lain.

Simbolisasi

Ah, ini bagian tersulitnya. Saya adalah sebuah manuskrip tua berusia ribuan tahun yang perlu dibaca kalimat per kalimat. Seseorang bilang bahwa saya begitu berbeda, saya bukan buku sembarangan yang bisa dibuka, dibaca lalu kamu akan mengerti maksudnya. Saya juga terkadang tak mengerti dengan maksud seseorang ini.

Saya lebih menggambarkan diri saya sebagai sepasang sepatu. Saya begitu menyukai sepatu. Buat saya, sepatu yang bagus bisa membawamu ke tempat yang bagus, itu teori konyol. Tapi, terbukti manjur. Tom Hanks [Forrest Gumps] berkata “You can see someone’s personality by looking at their shoes. Where they’re going, where they’ve been.” Saya terapkan dalam mengenali kepribadian orang-orang di sekitar saya. Saya juga sering menjadikan sepatu sebagai umpan belajar bahasa Inggris buat murid-murid saya.

Setiap pasang sepatu saya punya cerita. Mereka bernyawa, bahkan kadang saya merasa sedang sakit jiwa ketika berdiri berlama-lama di depan rak sepatu hanya untuk mendengarkan sepatu-sepatu itu memberikan pendapat mana yang harus saya kenakan hari ini.

Indonesia 2030 versi saya

Saya akan berumur 42 tahun. Usia berkeluarga dengan keluarga yang menyayangi saya.

Yang saya lihat.. dan saya dengar..

Dunia menjadi lebih teratur dan lebih baik untuk menjadi tempat tinggal. Rumah saya mungil tapi nyaman. Bahwa manusia-manusia Indonesia di masa depan begitu cerdas. Bisa berbicara dalam berbagai bahasa. Yang bahkan saya belum pernah saya dengar.

Orang-orang akan lebih mensyukuri apa yang mereka punya. Tak ada perang. Dan mereka mau belajar dari kesalahan.

Kontribusi saya

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris. Saya takkan memungut biaya sedikitpun ketika membagikan ilmu saya.Saya bukan berasal dari keluarga kaya. Untuk bisa lulus sekolah, saya belajar keras untuk mendapatkan beasiswa dan membuat orang tua saya bangga.

Menjadi seorang guru adalah cita-cita saya. Rasanya begitu menyenangkan ketika menerima ucapan terima kasih dari murid dan dipeluk mereka.

Judul Biografi

Wangi : Cinderella tanpa sepatu kaca [Tak perlu jadi sempurna buat mewujudkan cita-cita]

Hehehe.. Klise ya? Siapa sih yang tak suka Cinderella?

Saya cuma ingin membagikan bahwa mimpi pun bisa jadi kenyataan. Mimpi saya buat menjadi guru dan membagikan apa yang saya punya secara cuma-cuma. Bahwa kita tak perlu jadi sempurna.Kita yang mau berjuang keras. Kita apa adanya inilah yang membuat masa depan lebih baik. Kenapa? Karena kita mau belajar dari banyak kesalahan di belakang.

Hal konyol..

Adalah berbicara di depan kaca ketika saya masih kecil. Saya seorang pemalu, dulu. Jadi, berbicara di depan kaca membantu saya untuk bisa mengira-ngira apa yang akan saya katakan dan menebak reaksi lawan bicara saya.

Ditulis untuk Rubrik kolaborasi ‘Bukik Bertanya’

11 Comments

    1. Halo, saya panggilnya apa yah?

      Philopobia, salah satu judul buku yg dulu saya suka baca berulangulang dan gak pernah bosan.
      Entah kenapa, kok nempel di otak aja. 😀

  1. When you contribute all your knowledge to people around you. Then I believe, it’s going to be a huge step to move forward. 🙂

    I love your spirit. 😀

    Semoga bukunya selesai. Dan kamu bisa berbagi rasa dan pengalaman melalui buku yang kamu tulis. 😉

    1. matur suwun mas..

      Sometimes, i underestimate my self. Being a self-destructed person that i didn’t know at all.
      Sadly, i do that.

      Siap, sedang menyelesaikan buku 😀

    2. When you say that you were nobody, you see yourself now as somebody 🙂
      When you’ve been nowhere, now you are here, doing your best..

      Great spirits have always encountered violent opposition from mediocre minds.
      – Albert Einstein

      Accept challenges, so that you may feel the exhilaration of victory.
      -George S. Patton

      😀

      Hope I am able to be the first reader.

    3. Most people that i know keep saying that i’m tough. I can beat anything.
      But somehow, i would like to say “Hey, i need some help down here, would you please help me?”
      And i ain’t able to do that.

      That will be great, endorser, perhaps? 🙂

    4. Hehe. You ain’t able of doing that? Make it easy anyway. It isn’t as hard as you think. You’re able to ask people around you. I know it. And I guess, it’ll be a pleasure to help you if it’s needed. 😀

      By the way, sometimes we will be in a hard condition. Feeling of nowhere. Feeling pathetic. Feeling unhappy, etc. However, we always have chance to take the advantage from everything we did and we got in our life.

      There are no mistakes, save one: the failure to learn from a mistake.

    5. to be honest mas, i’m in an intersection now. I stop for a while, i need to take a breath. Deep breath. Before i continue it.
      *jd curhat*

      I found your twitter account, yaiyyy!! And followed you already 🙂

    6. I see. Get some rest then. Take a deep breath. 😀

      I know you’ll be ready soon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: