Aku masih mencintaimu. Tidak kurang. Tidak lebih.

Aku selalu mencintaimu.

Aku tak pernah lupa buat merindukanmu. Tak ada ragu yang menghimpit otakku buat lelah memikirkanmu.

Sudah menjadi kebiasaanku untuk memberikan satu ciuman di kening, kedua pipi dan bibirmu. Lalu, memelukmu erat sebelum kakiku pergi melangkah menjauhi dirimu.

Aku tak bisa berhenti mencintaimu. Sekarang pun masih, tidak kurang, dan tidak lebih. Selalu pas dan tak berlebihan hingga kau mati bosan. Selalu pas dan [aku harap] kamu tak pernah merasa kekurangan layaknya seporsi nasi goreng tanpa garam.

Kamu boleh menyalahkanku atas keputusanmu untuk meninggalkanku. Katamu, kamu hilang kepercayaan padaku. Tak apa. Meski terluka, aku berjalan sekuat tenaga. Aku tak mungkin kembali. Tapi, selalu berharap buat memelukmu kembali. Sekali lagi.

Kemudian kita berjumpa. Setelah beberapa tahun berpisah kota. Berbeda Negara. Tapi, masih punya satu rasa.

“Bagaimana kabar rasa di hatimu?”

Aku menjawab.

“Aku masih mencintaimu, sayang. Tidak kurang. Tidak lebih.”

Kuucapkan kalimat itu berulang-ulang seraya menunggu kamu datang. Setelah beberapa tahun menghilang.

Kamu pulang, sayang. Tapi, diam.

Kamu pulang, sayang. Tapi, lupa ingatan.

Kamu pulang, sayang. Bergandengan dengan dia dalam sebuah ikatan atas nama Tuhan.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: