Sejumput memori tentang kamu

Cara untuk melupakanmu

Saya memang tipe orang yang sentimentil. Gampang menangis. Selalu mengingat detail-detail kecil. Bagi saya, setiap hal yang ada di sekitar kita menyimpan cerita. Mereka punya ‘nyawa’.

Hari itu, Minggu pagi. Dan bagi saya, bangun pagi di akhir minggu tak perlu dilakukan. Kecuali untuk pacaran. Sehari setelah peluncuran buku #AimezMoi, saya teringat kamu. Kamu yang jadi intisari novel itu. Kamu yang membuat saya betah duduk berjam-jam memangku laptop seraya saya menuliskan kisah kita. Hari Minggu itu juga, pertama kalinya semenjak 10 bulan yang lalu saya membuka lagi laptop kesayangan saya.

Saya ‘panaskan’ laptop saya dan tak sampai 5 menit, jemari-jemari sudah meloncat kesana kemari mengetikkan kata demi kata. Iseng, saya menggerakkan mouse ke satu folder lama. Napas saya tertahan. Di dalam folder itu, ada banyak kisah yang bercerita tentang kita. Menyesakkan rongga paru – paru saya.

Saya teringat pula dengan berbagai miniatur tentang kota Paris yang tergeletak rapi di salah satu sudut meja kerja saya. Mereka semua mengingatkan saya pada kamu. Kamu yang membuat saya menunggu. Kamu yang membuat saya jatuh hati dan punya segudang rindu yang menggebu. Kamu yang membuat saya tersenyum benar – benar lebar. Cuma sebentar, tapi efeknya bertahan lama.

Kamu membuat saya menunggu kabarmu tiap waktu. Kotak chatting yang tiba-tiba ‘pop out’, lampu indikator blackberry yang berkedip merah, atau obrolan pagi hari di pantry. Saya kerap kali menunggu itu semua. Pesan singkat tiap saya pulang kerja, tiap kamu selesai jogging atau pesan singkat saat adzan Shubuh berkumandang. Awalnya memang menyenangkan, tapi semenjak kamu memutuskan buat berhenti berjuang, semuanya jadi berat buat saya. Saya, penuh dengan penantian, berdo’a supaya kamu cepat tersadar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak ada kabar darimu. Kamu menghilang.

Harusnya kamu bertanya sama saya, ngapain saja saya ketika kamu membuat saya menunggu kamu? Saya kasih tahu yah.

Saya menulis tentang kamu. Saya. Dan ketakutan kehilangan. Very pathetic, saya tahu. Waktu itu, saya berpikir bila kamu sempat membaca tulisan tentang kita, mungkin kamu akan berubah kepikiran. Tapi, ternyata berbelok jauh dari yang saya pikirkan. Kamu tetap pergi, memilih untuk melangkah sendiri, lalu kita akhirnya saling menghindari. Eh, sudah bukan lagi ‘kita’ yah? Memang tak pernah ada kata ‘Kita’. Tak pernah ada.

Seharusnya tak perlu takut kehilangan, toh memang kamu tak pernah jadi milik saya.

Sekarang, saya ingin menceritakan kisah ini buat semua orang. Menunggu bukanlah hal yang saya favoritkan. Karena membosankan dan membuang waktu. Prinsip saya adalah tidak mau menunggu dan tidak ingin orang menunggu. Sangat sederhana.

Hari Minggu itu, benar-benar emosional. Betapa sebuah benda bisa menceritakan kembali sejarah tentang kamu dan saya, meski tak pernah kesampaian akhir cerita bahagianya. Dan waktu itu saya segera berpikir, kalau terus-terusan memikirkan kamu, saya takkan pernah punya kesempatan untuk diri saya.

Lalu, ada dia, yang datang ketika saya mulai lupa kamu. Dia mengajarkan saya bahwa tak seharusnya setiap benda memiliki nilai monumental. Mereka hanyalah sebuah benda. Terima kasih ya.

Kepada kamu, semoga semuanya baik-baik saja. Saya baik-baik saja. Walau jadinya aneh, karena ketika saya menuliskan ini, kamu tiba-tiba muncul di depan kubikel saya sambil menyodorkan miniatur Eiffel. Saya cuma bisa tersenyum simpul saja.

Saya pergi yah, boleh?

Saya do’akan kamu bahagia. Dengan siapapun nanti. Ikhlaskan saya pergi, saya sudah punya pengganti kamu. Maaf, karena tak bisa memberi kamu apapun, selain sejumput memori. Tak perlu khawatir, saya gak sakit kok, cuma sedikit kecewa.

Time will heal all pain, for me, it is you who decide to be cured or not. End of story.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: