Saham. Investasi. Hati – hati.

Sebesar apa kamu mau berinvestasi dalam hubungan kamu? Lalu, bertaruh gila-gilaan dalam pasar saham. Bila kita tidak berhati – hati, kita akan kehilangan semuanya. Tidak balik modal. Bangkrut total. Tak tersisa apapun.

Ketika saya memutuskan untuk mencintai dia, saya bertaruh besar. Saya berinvestasi pada hati saya. Menanam saham dengan mengumpulkan bahan bakar cinta, kasih dan rasa sayang pada si dia. Saya musti berhati – hati. Memikirkan setiap langkah yang akan saya ambil. Tapi, bila memang saya sedang sial, seperti sekaranglah hasilnya. Perasaan yang berantakan. Pecahan hati yang berserakan. Masih mending kalau balik modal ini mah udah bangkrut total!

Maka, saya berinvestasi pada hal lain. Saya andaikan bahwa cowok itu seperti sepatu. Sepasang sepatu yang sangat nyaman. Beberapa hari yang lalu, saya membeli sepasang sepatu berhak 9 cm. Hitam. Klasik. Simple. Seperti saya. Ketika dipakaipun memiliki sensasi yang berbeda. Awalnya sepatu ini memberikan rasa nyaman. Tapi beberapa jam kemudian. Rasa sakit menyerang. Beberapa bagian kaki saya memerah. Hampir melepuh. Jadi, saya ganti sepatu saya dengan sandal jepit dalam perjalanan pulang kantor. Rasanya lebih nyaman.

Begitu sampai rumah, saya bandingkan sepatu hitam lama saya dan sepatu baru yang saya beli beberapa hari yang lalu. Sepatu baru saya nampak kinclong. Cakep. Tapi, bikin sakit. Sepatu lama saya sih sebenernya masih oke, cuma buat saya sudah tak layak dilihat. Sudah melar disana sini. Eittss, jangan salah yah, sepatu ini nyamannya mengalahkan sandal jepit swallow yang sering saya pakai. Pakai baju apapun, saya pasti mengenakan sepatu lama saya. Kenapa? Nyaman!

Perasaan nyaman itulah yang saya dapatkan ketika memilih untuk bersama si dia. Nyaman. Maka dari itu saya mempertahankan sepatu lama saya. Saya perbaiki haknya. Saya ganti kulitnya. Saya perkuat solnya. Dan, tadaa.. sepatu saya sudah siap dipakai lagi. Sama nyamannya. Bahkan lebih nyaman.

Sama seperti dia. Saya nyaman memeluk dia meski dia belum mandi seharian, Dan keringatan. [Teringat Sabtu sore beberapa minggu lalu, ketika dia pulang kantor demi malam minggu bersama saya tanpa mandi sebelumnya]
Saya nyaman menggandeng tangannya. Menggenggam erat jemarinya. Meski saya memakai sepatu hak tinggi yang membuat saya jadi lebih tinggi bersenti senti daripada dia. [Adegan ini saya gambarkan ketika saya mencoba merebahkan kepala saya di bahunya, aneh rasanya 😀 ]
Saya nyaman mencium dia. Meski saya tahu dia belum bercukur selama 2 hari. Janggutnya terasa kasar. Tapi saya tetap mencium berkali – kali. [Saya menciumnya sebanyak 5 kali!]
Saya tetap ingin bermanja – manja. Mendekat dalam pelukannya. Meski saya tahu dia bau asap rokok. Sesuatu yang saya tidak begitu suka sebenarnya. [Dia tersenyum malu ketika saya menebak bahwa dia merokok habis-habisan]

Masak iya setelah investasi saya sebesar ini saya menyerah begitu saja? Well, bisa jadi sih.
Dia bilang semua hal punya kadar kadaluarsa. Saya tidak percaya. Selama kita bisa merawat dan mempertahankannya dengan baik, semuanya bisa bertahan.

Jadi, bermainlah dengan cantik. Investasi saja. Seperti membeli sepasang sepatu nyaman. Mahal. Perlu pengorbanan. Sabar menunggu. Semuanya worth it!

Jangan bermain seperti para pialang saham yah, bisa – bisa kamu bangkrut total.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: